Kisah

Ketika Kefil Sakit

Harkam Tujantri | Senin, 21 Juli 2014 - 10:33:37 WIB | dibaca: 2643 pembaca

Aku tidak tahu apakah penyebabnya memang karena itu. Tapi sebegitu parahkah. Kukira, hal sederhana, hanya infeksi di bagian telinga, kehilangan keseimbangan, jatuh, lalu setengah hari kehilangan nafsu makan, terpaksa harus diinfus. Aku betul-betul tak tega menyaksikan ketika jarum2 infus itu berkali-kali dimasukkan ke dalam pembuluh darah Kefil. Ia meronta bahkan cukup kuat menendang dokter yang menginfusnya. Mulanya jarum itu mencari vena di bagian kaki  depan kiri dan kaki belakang kiri. Tapi akhirnya ke empat kaki yang sudah tidak berdaya itu secara bergantian mendapat giliran  suntikan pencarian vena. “pembuluh darahnya sudah kolaps” begitu kata dokternya.  Aku meringis dalam hati. “alangkah sakitnya nak,”

 

Dokter pertama perempuan mengalah. Tidak menemukan pembuluh darah yang tepat untuk dimasuki jarum infus.  Dokter kedua menghadapi persoalan sama. Pada dokter ketiga, (mungkin lebih berpengalaman) ia membubuhi sedikit  jeli pda jarumnya untuk memperlancar. Ternyata benar. Sekali suntik, tepat  pada sasaran. Pembuluh darah di kaki depan bagian kanan menjadi sasaran lewatnya infus.

 

Aku bersyukur, karena, setidaknya, untuk sementara pertolongan pertama dalam kondisi Kefil yang parah, sudah bisa dilakukan. Ia mulai tenang meski tubuhnya gemetar.  Diam-diam, aku berdoa dalam hati. Sejak semalam, aku melafaskan kata-kata yang sama, juga beberapa hari belakangan sejak Kefil sakit. Aku suka menyuarakan nada lagu salatullah-salamullah, dengan syair kukarang-karang sendiri. Kefil jadi terbiasa mendengar senandungku yang lebih tepatnya berupa doa.  Saat cairan infus mengaliri darahnya, setengah berbisik aku menyuarakn kalimat itu lagi. Ya Allah Maha Pengasih, ya Allah Maha Penyayang, ya Allah Maha Menyembuhkan, Tolonglah sembuhkan Kefil, ya Allah sembuhkan Kefil, agar Kefil bisa jalan lagi...ya Allah...begitulah seterusnya kuulang berpuluh kali.

 

Kefil tampak tenang. Sendirian kutemani dia. Karena semua dokter dan tenaga medis klinik satwa milik pemerintah itu harus makan siang. Padahal sudah jam 2. Mereka  terlambat istirahat karena harus menangani Kefil yg menurut dokter disitu memang sudah kritis. Tubuhnya yang semula seberat 4,5 kilo itu ketika mulai sakit menjadi 3,2 kilo. Bahkan saat sebelum diinfus ia ditimbang lagi, hanya 2,7 kilo. Kurus sekali dia.

 

Kefil termasuk gendut, meski tidak terlalu. Ia sangat lincah dan penggoda. Bila ada kucing cewek, ia selalu tergoda untuk menggoda. Ia juga termasuk  pemakan segala. Kefil tak harus makan RC atau sejenis lainnya. Ia juga bisa makan nasi dengan ikan rebus. Apa yang disuguhkan, ia siap menyantap.

 

Meski sakit, selera makannya tidak berubah. Hanya saja belakangan ketika ia tak bisa menelan makanan yang keras, tubuhnya drop.  Aku lupa sejak kapan Kefil terkena infeksi telinga. Dan aku juga tidak tahu penyebabnya apa.  Karena menurut hasil pencarianku sama Mbah Google, ada beberapa penyebab.  Aku mulai sadar ada kelainan pada Kefil ketika ia sering memiringkan kepalanya ke arah kanan.  Setelah kuteliti telinganya,  kulihat ada yang aneh. Kotoran telinganya berproduksi lebih banyak. Kucoba bersihkan, tetapi masih tetap ada.  Mengamati tanda-tanda dan isyarat dari kondisinya, berat dugaan, ia terkena Otitis.

 

Kubawa Kefil ke dokter bermaksud mencari solusinya. Memang dalam beberapa artikel yg ditulis dokter hewan, keketahui Otitis tidak membahayakan. Jika diobati, dalam 2 minggu akan pulih. Tetapi aku merasa perlu memeriksakan Kefil ke dokter, karena kemiringan kepalanya mulai berat. Kefil disuntik. Ada rasa kecewa sebetulnya. Aku membayangkan bila kita berobat ke THT, maka dokternya akan mengobok-obok telinga kita dengan menggunakan  lampu sorot yang ditaruh dijidat dokternya. Kemudian stetoskopnya dimainkan juga memeriksa denyut nadi. Apakah ada kaitanya telinga dan nadi, aku juga tidak peduli, karena itulah gaya dokter THT. Tapi Kefil tak diperlakukan seperti itu. Bahkan kupingnya pun hanya dilongok sesaat. Tapi sudahlah. Kefil sudah ditangani oleh ahlinya. Aku pasrah saja.

 

Malamnya, setelah diperiksa itu, Kefil tampak lebih parah. Ia bahkan sama sekali tak bisa mengerakkan tubuhnya. Kutaruh ia diatas kasur  agar leluasa bergerak. Tapi tidak, ia sama sekali sukar menggerakkan kakinya. Ia hanya menggapai-gapai, bahkan tubuhnya bergerak mundur. Kefil berteriak histeris, karena kesal tubuhnya tak bisa digerakkan. Aku tahu ia sangat kesal dengan kondisinya yang tak mampu menggerakkan badan. Berkali-kali ia berteriak. Astagfirullah. Bayangan buruk melintas di pikiranku. Tidak. Kefil tidak boleh lumpuh. Selama ini ia cukup kuat. Ya Allah, jangan biarkan Kefil-ku menderita. Aku berdoa sebanyak ayat yang kuingat. Kupeluk dan kudekap dia sangat erat. Aku berharap, detak jantung dan nafasku akan memberi kekuatan padanya. Hingga pagi, aku masih memeluknya. Aku tidak menyadari sudah berapa lama aku terbaring di tempat tidur seraya terus memeluknya. Padahal malamnya, aku mendekapnya sambil duduk disisi tempat tidur.

 

Saat membuka mata, kutatap Kefil disisiku masih pulas. Dalam hati aku berjanji, andai Kefil tak diberi kekuatan bergerak lagi, aku akan menjaganya sebisaku. Ya Allah, Engkau tahu apa yang baik untuk Kefil dan Engkau juga tahu kesanggupanku. Beri aku kesempatan merawatnya.

 

Alhamdulillah, ia mulai berangsur baik. Perlahan-lahan Kefil sudah bisa menggerakkan tubuhnya. Ia juga sudah bisa makan. Namun untuk menjawab was-wasku, aku periksakan Kefil ke klinik satwa milik pemerintah. Kefil diperiksa lebih jelimet. Sang dokter mengobok-obok kuping Kefil sesuai dengan apa yg kubayangkan. Telinga Kefil dibersihkan sampai kinclong. Bahkan kotoran telinga itu diperiksa dg mikroskop, apakah ada parasitnya atau tidak. Syukurlah, tak ada parasit. Kefil diberi obat untuk dimakan. Selang seminggu aku diminta datang lagi. Kondisi Kefil agak baikan. Tetapi keseimbangannya mulai terganggu. Ia tak bisa berjalan lurus. “Syaraf keseimbangannya sudah terganggu. Karena di telinga banyak syaraf, salah satunya adalah keseimbangan. Makanya ia tak bisa berjalan lurus,” kata dokternya. Ia memberi obat tambahan dengan meracik sendiri buat perangsang syaraf.

 

Memberi obat Kefil adalah pekerjaan sulit. Ia sudah stres duluan dan trauma melihat spet yang akan ditodongkan ke mulutnya. Aku sering mengakalinya agar tak ketahuan memegang spet. Berkat yakin, obat yang diberikan untuk seminggu itu selesai juga dimakannya. Aku mulai lega karena Kefil sudah lebih baik. Hanya saja keseimbangan itu, menurutku tak ada kemajuan. Kefil sulit berjalan normal. Ia cendrung bergerak miring dan memutar. Kondisi itu membuatnya berjalan tidak stabil. Apakah ada kaitan dengan syarafnya itu juga, Kefil kurang doyan makan makanan keras. Karena itu kuberikan makan kaleng untuk kitten dicampur susu. Ia akan melahapnya sampai jilatan terakhir. Agar lebih bergizi, RC yg biasa ia kunyah, kuseduh air suam kuku biar lembek. Setelah lembek, kublender hingga lumat. Sekali dua, ia memakannya dengan lahap. Namun kemudian ia menolak. Kukira ia tak berselera karena  “neg”. 

 

Hingga Rabu, sehari setelah Lebaran Haji, Kefil jatuh masuk got di halaman belakang. Biasanya ia kumasukkan kandang agar tak leluasa berjalan-jalan. Kondisi jalan yang tidak stabil itu membuatku ragu membebaskannya berjalan. Makanya kumasukkan kandang tapi tidak dikunci. Ternyata, ia nyelonong keluar dan jatuh. Badannya yg kotor kusiram. Sejak telinganya bermasalah, aku tak pernah memandikannya, takut kepercik air.  Semalaman, Kefil tidak mau makan. Karena fisiknya belakangan sangat rentan, kalau tidak makan ia langsung drop. Lemah sekali dia. Membuka matanya saja ia tak sanggup.  Aku mencemaskannya. Tengah malam begini, mau kubawa kemana?  Aku tak bisa melakukan apa-apa. Melihat bibir dan lidahnya mulai memutih, aku sangat cemas.  Kutetesi sedikti sedikit dengan air agar tak  kering betul. Ia tak beraksi ketika ditetesi air. Aku betul-betul cemas. Kukira ia koma. Tapi sesekali terdengar erangannya. Malam itu, ia kubawa tidur bersamaku agar ia nyaman. “Tuhan, berilah Kefil kekuatan untuk bertahan. Izinkan aku melihatnya esok hari,” doaku.

 

Alhamdulillah, aku masih melihatnya bereaksi ketika kusapa sepagi hari. Kutelpon dokter ke klinik. Aku diminta segera membawanya ke sana untuk diinfus. Tubuhnya yang terbaring lemah, tanpa daya membuatku sangat sedih. Apalagi menjelang pulang dari klinik, dokter memintaku untuk siap menerima resiko paling buruk sekalipun.”Biasanya, kalau kondisi seperti ini, kita tidak bisa berharap banyak. Kemungkinannya cuma 20 persen.”

 

Kalimat itu seperti petir meyambar di siang bolong. Meski aku tahu Kefil sedang kritis, aku masih saja tidak siap.  Kutahan sekuatku agar tak ada air mata. Lagi pula, di klinik seramai itu, aku tak ingin kelihatan cengeng. Aku hanya menelan ludah, yang terasa sangat kelat. Ya Allah, apakah aku harus kehilangan lagi? Aku masih trauma, bulan lalu 4 kitten ku pergi untuk selama-lamanya yang aku tak pernah tahu penyebabnya. Kata dokter virus. Kemudian Indah, kucing korban tabrak lari yang kupelihara sejak 6 bulan lalu, juga sakit.  Pup nya sudah mengeluarkan darah. Karena daya tahan tubuhnya kuat dan cepat ditangani, ia bisa pulih. Lalu, apakah aku harus kehilangan lagi? Jangan. Jangan Tuhan. Jangan beri aku beban lebih berat lagi. Selamatkanlah Kefil. Sembuhkan dia, meski ia harus kutaruh di kursi roda sekalipun, tolong Tuhan, pulihkan Kefil. Beri aku kesempatan menjaganya. 

 

Memboyong tabung infus, aku pulang. Kutidurkan Kefil di jok belakang. Tabung infus kuikat dengan tali di gantungan tangan pintu belakang. Melihatnya lemah terbaring, perasaanku seperti diaduk-aduk. Begitu keluar dari halaman  klinik, pertahananku bobol juga. Aku menangis seraya terus menyetir mobil. Sebentar-sebentar kealihkan pandangan ke jok belakang, hatiku trenyuh, betapa beratnya penderitaanmu, nak...

 

Semalaman, Kefil tidur dalam pelukanku. Aku tak ingin menyesal bila terjadi apa-apa dengannya.  Ternyata Allah mendengarku. Pagi harinya, Kefil  sudah membuka matanya. Kulihat bola matanya  mulai memancarkan sinar.  Tak henti-hentinya aku bersykur atas perubahan itu. Kusuapi setetes demi setetes air. Alangkah girangnya  aku ketika ia bereaksi meneguknya. Alhamdulillah. Aku coba memberinya makanan kaleng dicampur susu, perlahan-lahan ia menelannya.

 

Ketika kubawa ke klinik lagi, masih dilakukan penambahan infus. Ia diberi dua suntikan. Malam ini, aku masih menyenandungkan kalimat yang sama, agar Allah  memberi kesembuhan pada Kefil.  Kulihat Kefilku tidur nyenyak. Cepat sembuh ya nak........

Padang 19/10-13.










Komentar Via Website : 32
essen ikan mas
19 Desember 2016 - 13:23:46 WIB
obat pilek menahun
09 Januari 2017 - 08:47:13 WIB
semoga kebaikan anda dibalas dengan yang lebih baik
https://goo.gl/aIyebG
https://goo.gl/UbPTZv
Cara Mengobati Stroke Berat Terbaik
23 Maret 2017 - 09:20:14 WIB
Semoga dipertemukan dengan orang yang lebih baik lagi dari dia ? http://goo.gl/P2L3F1 | http://goo.gl/YiXMDe | http://goo.gl/1ixVWA | http://goo.gl/pRWjrY | http://goo.gl/cikUbs
Cara Alami Mengobati Ambeien Ampuh
26 April 2017 - 15:10:21 WIB
Cara menghilangkan urat menonjol
07 Juli 2017 - 12:22:59 WIB
Terimakasih, saya senang berkunjung di website ini https://goo.gl/tgHqz8 .


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)