Kisah

Ketika Kefil Pulang

Harkam Tujantri | Senin, 21 Juli 2014 - 10:35:40 WIB | dibaca: 2039 pembaca

Hari ini, memasuki hari ketiga.  Aku masih belum bisa membuang  kesedihanku.  Masih kuingat dengan jelas,  saban  aku bangun sepagi hari,  ia meringkuk dalam dekapanku. Lalu menyapanya, untuk memastikan apakah ia masih menjawabku.  Biasanya, ia akan menggeliat dan mengeluarkan erangan meski agak lemah.  Pagi ini, tak ada apa-apa.  Tetapi  bau tubuhnya  masih tersisa dalam penciumanku.  Bau makanan kaleng bercampur susu dan wangi tisu basah, itulah aroma yang kucium belakangan dari tubuhnya. 

Kefil sudah pulang.  Allah sudah menunggunya di surga.   Meski  sudah lama sakit,  agaknya aku  tetap saja  belum siap. Siapakah yang  cukup kuat kehilangan? Apalagi dengan  makhluk kesayangan yang sudah 2,5 tahun bersama-sama, memberi kehangatan, kenakalan,  kelucuan dan kebahagiaan nyata dalam  kehidupanku. Perasaanku masih saja dilanda kesedihan.

Padahal aku mulai menaruh harapan ketika Kefil  bersemangat makan . Kulihat ia seolah-olah ingin menebus rasa laparnya setelah beberapa hari tidak makan, hanya bergantung pada infus yang diberikan dokternya.  Ia menelan makanan cair yang kusodorkan dengan lahap. Tiga hari setelah kondisinya kritis  itu, ia mulai membaik.   Tetapi ia masih butuh perawatan intensif, sekali dalam seminggu harus ke klinik.

Perkembangannya terlihat baik.   Matanya mulai berbinar dan tubuhnya kelihatan agak  berisi.  Aku  senang  melihat ia mulai bersemangat.  Bahkan ia meronta-ronta minta dikeluarkan dari kandang. Tapi aku tak ingin kecolongan lagi, makanya aku masih mengandangkannya. Aku cemas, kalau ia keluar, lalu jatuh dan sakit lagi. Karena keseimbangannya betul-betul hilang.  Untuk mengusir kesepiannya,   pagi hari aku menjemurnya bersama saudara dan teman-temannya yang lain di taman halaman belakang rumah. Siang dan sore, aku masih menaruhnya diantara kandang dan kamar keluarga besarnya agar ia tetap merasakan berada diantara mereka.

Malam hari, aku membawanya ke dalam rumah, tidur bersamaku. Saat bersamanya, aku masih menyenandungkan  irama yang sama, hanya beberapa katanya  kuubah. Ya Allah maha pengasih, ya Allah maha penyayang, Alhamdulillah Kefil sudah sehat, terima kasih kepada Allah.......

Melewati seminggu,  Kefil masih baik-baik saja.  Aku tidak tahu apa sebabnya, tiba-tiba ia menolak makan.  Padahal makanan yang kuberikan masih sama.  Aku mencemaskannya.  Karena sudah malam, tak ada dokter yang mau dikunjungi, aku menunggu pagi.  Langsung kebawa ke klinik tempat ia biasa diperiksa. “Kayaknya Kefil drop lagi. Kita infus saja menopang  kekuatan tubuhnya,” kata  dokter Fira yang menyongsong kami di pintu klinik. Kebetulan  Hanif, dokter khususnya di klinik pemerintah itu  sedang melakukan operasi  cesar pada  kucing lokal yang keracunan kehamilan. Tapi dokter Fira juga biasa mengurus Kefil. Mereka berdua sangat perhatian dan kelihatannya juga penyayang.

 Jarum suntik kembali menusuk-nusuk pangkal paha kanannya.  Kefil masih bereaksi.  Kakinya sempat menendang tangan dokter Fira sebanyak dua kali.   Hari itu Kefil dirawat. Ia  boleh kubawa  pulang ketika klinik akan tutup jam 6 sore.  “Saat telinganya meradang, ada kalanya ia kejang-kejang. Akibatnya ia tidak mau makan dan lemah,” tutur dokter Hanif menjelang pulang. 

Sebegitu  hebatkah akibat dari infeksi telinganya?  Alangkah sakitnya hingga ia tanpa daya? “Kefil yang kuat ya nak. Kita berjuang sama-sama ya sayang,? “ bisikku saat kami hanya berdua didalam mobil. 

Malamnya, Kefil tampak resah. Sebentar ia  bergerak ke kanan, sekejap ia sudah membalikkan  tubuhnya ke kanan.   Padahal infusnya masih terpasang.   Hingga infusnya habis, ia baru agak tenang. Kulewati malam dengan baik lantaran Kefil bisa tidur lelap.

Beberapa hari, kondisinya mulai berangsur baik. Aku senang.  Meski begitu, aku tetap was-was saat meninggalkannya di rumah. Aku harus keluar kota beberapa hari. Tapi tanggung jawab pekerjaan mengharuskanku meninggalkan Kefil di rumah.  Sebelum pergi, aku memajang ditiap sudut rumah  lembaran kertas penuh pesan untuk  perawatan Kefil.  Isinya, jadwal makan, pemberian obat, penambahan nutrisi, minum,  termasuk  waktu  telinganya harus dibersihkan dan ditetesi obat.   Saban ada kesempatan, kutelpon pulang  mengingatkan orang-orang di rumah. Aku sangat cerewet kelihatannya.

Begitu pulang,  masih menenteng tas aku langsung ke kandangnya. Selama aku pergi, aku memang berpesan agar ia tak dikeluarkan dulu mengingat kondisinya  masih lemah. Aku  sangat mengkhawatirkannya. Ia mengeong saat kusapa. Kudekap dia memastikan ia baik-baik saja.  Ya Allah, Kefil  begitu kurus. “sore tadi, Kefil hanya menelan separuh dari makannya,”ucap ponakanku saat aku masih memeluknya.

Kurasakan tubuhnya lebih ringan.  Kukira beratnya  berkurang dibanding sebelum aku pergi. Kulihat telinganya bersih, Hanya bulu  dibagian leher dan  punggungnya basah. “Tadi siang Kefil kencing , jadi  badannya basah. Tapi sudah dilap kok,”  ujar ponakanku seolah tahu  jalan pikiranku.

Kudekap ia lebih erat. “Ya Allah, Kefil kedinginan ya sayang,”. Setelah kusuapi makan yang hanya sedikit  ia telan, kubaringkan  ia di tempat  tidur.  Dengan  menggunakan hair dryer , pengering anak-anak  yg biasa kugunakan seusai  mereka mandi, kuhangatkan tubuhnya. Aku lega karena ia bisa nyenyak hingga pagi.

Kefil masih menolak makan.  Tubuhnya langsung drop. Segera kutelpon  Hanif. Ternyata ia sedang di luar kota kerena  hari libur. Waktu itu 1 Muharram, klinik tutup dan semua dokter praktek juga libur.  Sudah  sore aku masih belum juga mendapatkan dokter yg bisa menginfusnya.  “Tuhan, tolonglah Kefil,  berilah jalan untuk kesembuhannya.”

Aku benar-benar panik.   Beberapa dokter yang kucatat nomornya sudah kuhubungi. Untunglah ada  teman Hanif yang merelakan waktunya ke klinik swasta tempat ia praktek. “Saya lagi di plaza  dengan anak-anak. Tapi ndak apa. Saya tinggal anak-anak dengan ayahnya, saya ke klinik sekarang. Setengah jam  lagi saya tunggu di klinik,” sahutnya melalui telpon. Rupanya ia sudah ditelpon  Hanif agar bisa membantu Kefil.

Kefil diinfus lagi.  Aku tidak tahan melihatnya.  Aku ikut menahan sakit saat ia mengerang .  Aku tak ada daya menolong meringankan rasa sakitnya.  Tapi tak ada pilihan, selain memberinya infus agar tetap bertahan . “yang sabar ya sayang. Kefil harus diinfus biar kuat, nak” bisikku. Kupeluk dia  berharap sakitnya berkurang.  

Aku tidak tahu apakah ia masih mendengarku atau tidak. Sepanjang malam aku tak henti-hentinya menyuarakan kalimat yang sama. Memohon kepada Allah untuk kesembuhan Kefil.  Boleh dikatakan aku tidak tidur.  Sebentar aku memeriksa infusnya apakah masih lancar. Kala lain, lebih sering aku mengecek nadinya.  Semalaman itu, ia selalu dalam dekapanku memberikan kenyamanan padanya.

 

Paginya, kondisi Kefil tidak berubah. Aku memboyongnya ke klinik biasa.  Dokter Fira memberinya tambahan infus dan suntikan. Karena kondisinya lemah, ia diperiksa di dalam mobil. Saat diperiksa itu, ia tampak  tidak bereaksi. Ia mulai lemah.  Dadaku  seperti diiris-iris. “Kefil yang kuat ya sayang,” bisikku.

 Di rumah, aku tak ingin meninggalkannya, meski  sesaat. Aku ingin terus menemaninya melawan kesakitan.  Saat   sholat Dzuhur, aku  memohon kepada Allah  agar memberikan yang terbaik untuk Kefil.  Ya Allah,  sembuhkan Kefil bila Kau berkehendak umurnya panjang. Aku akan menjaganya sekuatku  meski harus menggendongnya kemana-mana.  Tapi bila Kau hendak mengambil titipan Mu ini, karena takdirnya, aku mengikhlaskannya. Aku tidak tega menyaksikan Kefilku kesakitan. Kuatkan aku Tuhan.

Usai sholat aku mendengar Kefil cegugukan .  Aku segera beranjak  ke sisi pembaringannya.  Ia masih bernafas.  Kulihat kedua bola matanya membulat, penuh, dan bening. Padahal sebelumnya, sebelah matanya  tertutup  “Kenapa Nak? Kefil tau kan sayang, Bunda sangat sayang sama Kefil,” suaraku setengah berbisik.  Ia menatapku tajam. “Kefil masih kuat sayang? Ayo semangat nak, kita berjuang sama-sama.  Tapi kalau Kefil nggak kuat lagi, nggak apa-apa, Bunda ikhlas. Bunda nggak kuat melihat Kefil kesakitan. Kefil boleh pulang.  Pulanglah nak...Tuhan telah menunggumu  di rumah Nya, di surga.” 

Air mataku tumpah, jatuh tepat dimatanya. Kuusap matanya. Ia masih menatapku dengan tajam. Aku tidak kuat.  “Bunda ikhlas, nak, Pulanglah.....” 

Air mataku mengalir deras.  Aku terisak. Bahwa sesungguhnya aku tidak sekuat yang aku kira. Saat itu dari hidungnya  keluar cairan, begitu juga dari mulutnya.  Ia masih bernafas meski lemah. Entah kenapa aku meninggalkannya  sesaat mengambil tisu untuk mengeringkan sekitar mulutnya yang basah.  Tuhan sudah mengatur segalanya, mencatat seluruh garis pada kehidupan dimuka bumi.  Kefil  dijemput kala aku tidak disisinya. Allah tahu, aku tidak tega menyaksikan tarikan nafas terakhirnya.  Begitu aku balik, Kefil sudah pergi.  Aku terisak.... lidahku kelu.... Kupeluk ia erat-erat, pelukan terakhirku. Selamat jalan, sayang.

9/11-2013

 










Komentar Via Website : 30
Cara Pemesanan Gamat Emas Kapsul
01 November 2017 - 15:59:30 WIB
terima kasih, silahkan mampir di web kami https://goo.gl/jjGr4G | http://bit.ly/2wGo7tr | http://ow.ly/sG5f30ggLkB
Cara Pemesanan Gamat Emas Kapsul
01 November 2017 - 16:01:15 WIB
terima kasih, silahkan mampir di web kami https://goo.gl/jjGr4G | http://bit.ly/2wGo7tr | http://ow.ly/sG5f30ggLkB
Cara Pemesanan Gamat Emas Kapsul
01 November 2017 - 16:02:41 WIB
terima kasih, silahkan mampir di web kami https://goo.gl/jjGr4G | http://bit.ly/2wGo7tr | http://ow.ly/sG5f30ggLkB
Cara Pemesanan Gamat Emas Kapsul
03 November 2017 - 14:28:20 WIB
terima kasih, silahkan mampir di web kami https://goo.gl/jjGr4G | http://bit.ly/2wGo7tr | http://ow.ly/pcQH30gk7gD
Cara Pemesanan Gamat Emas Kapsul
03 November 2017 - 14:29:36 WIB
terima kasih, silahkan mampir di web kami https://goo.gl/jjGr4G | http://bit.ly/2wGo7tr | http://ow.ly/pcQH30gk7gD
Cara Pemesanan Gamat Emas Kapsul
03 November 2017 - 14:31:12 WIB
terima kasih, silahkan mampir di web kami https://goo.gl/jjGr4G | http://bit.ly/2wGo7tr | http://ow.ly/pcQH30gk7gD
Walatra Sehat Mata Softgel
24 November 2017 - 17:27:30 WIB
Walatra Sehat Mata Softgel

http://goo.gl/5yLwKy
Awal Kembali 123 LanjutAkhir


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)