Kisah

It’s not ‘just’ about cat, dear friends… it’s about love…ordinary love.

Bebaslah, anak ganteng.. berlari-larilah gembira di Rainbow Bridge

Nita Indrawati Arifin | Kamis, 21 Agustus 2014 - 09:34:39 WIB | dibaca: 4092 pembaca

by dhenok hastuti

Dia paling suka tidur di atas kepalaku. Aku tak ingat persis kapan ia mulai melakukannya. Yang kuingat, setelah makin besar kusediakan bantalnya sendiri. Tetap, di atas kepala. Tapi tetap juga, dia suka menggeserkan kepalanya mengarahku. Pada tengah malam terjaga, kucium dia (aku juga menciumi anak-anakku yang lain). Tidurnya lucu. Kalau gemas kadang kugelitiki perutnya. Biasanya dia terbangun, mengeluarkan cakar dan menarik rambutku. Hal yang sama dia lakukan kalau bangun lebih awal. Menarik rambutku atau nongkrong di dadaku. Bersanding dengan Maiku, adiknya, yang tiap tidur lebih suka di posisi itu. Kenangan yang tak akan terlupakan bersama Onin…

Sedari Sabtu kemarin aku berusaha menulis. Tapi masih berat melakukannya. Ingatan-ingatan itu terus membangkitkan sedihku. Beruntung aku memiliki kawan-kawan yang baik. Betul, sebagian besarnya kawan-kawan dunia maya. Orang bilang dunia maya-facebook tidak riil. Ah, biar saja orang berkata begitu. Karena yang kurasakan, perkawanan dari dunia maya ini yang justru selama ini menguatkanku. Baik kawan yang pernah bertemu langsung maupun yang belum. Mereka nyata meski tak sungguh-sungguh berjumpa. Yang cukup mengagetkan lagi adalah aku menerima banyak pernyataan belasungkawa dari nama-nama yang cukup asing. Nama-nama yang mungkin sudah berkawan denganku atau Naga meong. Tapi nama-nama itu tak pernah muncul dan mengenalkan diri. Jarang atau bahkan ada yang tak pernah berbagi komentar. Tiba-tiba saja nama-nama itu menyatakan perasaan kehilangan yang sangat, yang aku tahu bukan kepura-puraan. Di timeline FB maupun lewat inbox. Sungguh mengharukan. Dan sungguh aku merasa beruntung dan bahagia, begitu banyak yang menyayangi Onin. Begitu banyak yang peduli dengan keberadaanku dan anak-anak meongku. Di saat keputusanku untuk membuat pilihan hidup yang semacam ini dipertanyakan. Ah, kawans…aku berhutang terimakasih banyak pada kalian!

Begitulah, dari kemarin masih pasang surut perasaan. Beberapa kawan masih terus menguatkan. Tapi aku butuh treatmentku: menulis. Aku tahu, aku belum rela kehilangannya. Maka aku perlu menulis. Karena buatku, menulis, selain untuk mengekalkan ingatan, juga untuk memaksaku me-reka ulang peristiwa lalu menginsyafi kalau semua telah terjadi. Hal lain bisa berulang dalam kehidupan ini. Tapi tidak dengan kematian. Dan Onin sudah pergi. Kepergian abadi. Ia telah memberikan saat-saat terbaiknya buatku, dengan kesehatannya yang nyaris tak pernah prima. Ia, Onin, mengajariku tentang mencintai hidup dan mencintai tanpa minta kembali. Hal yang sebetulnya dilakukan juga oleh anak-anakku yang lain. Pun kucing-kucing lain di sekitarku. Bedanya aku pernah berharap banyak pada Onin. Mungkin malah sangat banyak. Dan barangkali itu pulalah yang menjadikanku berat untuk melepasnya. Barangkali itu jugalah yang memaksa Onin terus berusaha bertahan melawan penyakit-penyakit berat yang dialaminya. Dia ingin membahagiakanku. Membahagiakan ibu. Maafkan ibu, Sayang….maafkan ibu….

Onin kucing yang ramah. Dari semua kucing yang pernah kupelihara, dia yang paling ramah. Kalau dari ukuran manja, mungkin cuma Aka yang menyamai kemanjaannya. Tapi keramahan sekaligus kebaikan baru dimiliki oleh Onin. Teman-teman Naga meong menyebutnya pemuda meong gampangan. Dia tenang dan bersahabat saat berhadapan dengan manusia. Mimi atau Shachou Menik mungkin tak takut pada manusia. Tapi mereka sebatas tak takut, bukan keramahan seperti yang ditunjukkan Onin. Suatu petang aku pernah dibuat kaget. Seorang ibu, berkerudung, tiba-tiba ada di depan pagar rumah sambil gendong Onin! Ada apa dengan anakku?! Hmm, rupanya ibu itu kakak dari tetangga sebelah yang sedang singgah. Dia memelihara kucing juga. Onin yang ganteng menarik perhatiannya. Dan tentunya hanya Onin yang ramahlah yang bisa dengan mudah digendongnya. Bagaimana kalau yang menggendongmu penculik, Oniiiiin?!

Tiga kali Onin kubawa ke kantor. Saat masih kecil dan umur 4 bulanan, sakit dan harus ke dokter. Sulit untuk menyisihkan waktu khusus. Jadilah ia ikut ibu bekerja dulu. Pada kali lain, sengaja kuajak dia sekalian untuk motret tas ‘Ransel Ronin’ yang memang kusimpan di kantor. Dia tak menolak digendong siapa saja. Ikut belajar di kelas bersama sensei dan siswa yang kebetulan juga suka kucing. Dia juga berhasil menggoda sensei yang lain untuk berpose ajaib. Begitu pula pada kali yang lain saat aku membawanya ke dokter. Dia ikut menunggu dengan manis di kursi tunggu pasien. Bahkan menyapa dua orang di antaranya. Di meja periksa pun dia tampak tak khawatir. Menyandar manja di tangan dokter yang memeriksanya. Pun saat beberapa kawan berkunjung ke rumah. Saat yang lain memilih pergi, ia menyambut. Ah, dia memang pemuda meong gampangan…

Ya, Onin ramah dan baik hati. Itulah kenapa aku berharap banyak darinya. Saat mulai terpikir untuk membuat tas kucing, namanya..nama lengkapnya yang terlintas. Terdengar gagah: Ronin (Ronin Pet Carrier). Lalu ketika Mang Oben, kawan yang bekerjasama dalam pembuatan tas ini menawari kemungkinan untuk membuka toko pernak-pernik dunia kucing, aku pun mulai membayangkan sesekali aku akan mengajaknya. Dia akan menemui sendiri para pembelinya. Keramahannya pasti akan menyenangkan banyak orang. Tapi Onin berulangkali kembali turun kesehatannya. Bahkan rencana untuk melakukan pemotretan produk pun belum berhasil. Hanya pemotretan sekadarnya yang dilakukan ibunya sendiri. Tak tega membawanya jauh-jauh dan lama.

Aku mencoba mengingat perjalanan sakitnya Onin. Pada November atau sebulan setelah bayi-bayi (Naga menyebutnya cebong-cebong) kuadopsi (baca: Ronin dan Maiku), mereka tumbuh jadi bocah kecil yang sangat ganteng (dan adiknya yang manis). Pada sebulan berikutnya (Desember) Onin mulai jatuh sakit. Setelah dua bulan perawatan, kondisinya membaik. Masa ini, Februari hingga April bisa dibilang kondisi terbaiknya. Sempat sekali dia berobat. Tapi secara umum baik dan sehat. Tumbuh besar jauh meninggalkan adiknya. Baby giant. Tampak lebih berisi bahkan dari om dan kakak-kakaknya. Bulunya yang sempat rontok karena sakit kulit sudah membaik, megar. Putih belang hitam, bersih. Masa-masa ini dia sangat ceria. Onin juga jahil. Jahil, bukan nakal. Karena memang dia tampaknya tak pernah punya niat jahat, juga tak punya prasangka. ‘Kucing tanpa prasangka’ begitu Naga meong menyebutnya. Dia menjahili bocah-bocah yang suka singgah di rumah. Tapi ia juga sekaligus menemani mereka. Onin tampak tak peduli peringatan om-nya, kalau Tante Jov itu galak. Ia mendekati siapa saja. Shachou menik yang awalnya menghindar bahkan suka nabok, mulai mau berdekatan. Bahkan kepada Tante Jov yang jelas-jelas menunjukkan ekspresi tak suka, ia tak ambil pusing. Begitu saja dia meng-goler di sebelah Jova.

Pada masa sehat makannya sama sekali tak rewel. Dia makan apapun. DF. WF. Ayam mentah. Naga meong melabelinya ‘kucing sapu-sapu’. Saat yang lain sudah selesai makan, dia masih mengunyah. Menghabiskan makan saudara-saudaranya yang masih bersisa. Rangka tulang Onin besar dan panjang. Kubilang padanya, kalau sudah besar dia bakal mengalahkan kegantengan om-nya, Naga meong. Kenapa Naga…karena mereka sama-sama memiliki ekor kemoceng. Sebagai kucing Onin sama sekali tak merepotkan. Ketika adiknya, Maiku mulai ikut-ikutan Trio Mio berkelana di atap, dia bertahan tak ikut. Dia memilih untuk lari-lari dan bermain di rumah dan halaman. Kegembiraan ia tularkan lewat gumamannya. Mungkin pada manusia itu semacam senandung. ‘Ngaung-ngaung-ngaung’ sering membarengi langkahnya berlari.

Sungguh, sebagai seekor kucing Onin sama sekali tak merepotkan. Dia sangat manis. Onin suka menciumiku. Pada beberapa kali bepergian, saat tiba di lokasi dan tas kubuka, serta merta dia langsung menubruk, memelukku, menciumiku, seperti sudah setahun tak ketemu. “Onin tak suka berpisah dari ibu.. Onin tak suka!” Seolah itu yang ingin dikatakannya. Ah, aku tak akan pernah lagi mendapati perlakuan manisnya. Onin pergi. Onin sudah terbang ke jembatan pelangi. Sungguh tak rela tiap mengingat bagaimana ramah dan manjanya dia. Tapi lalu aku menghitung. Onin menemui dokter, baik mengunjungi atau dikunjungi, sebanyak 10 kali terhitung sejak Desember 2013. Satu di antaranya hanya konsultasi, tanpa obat. Satu yang lain cek darah-lab. Dan satu yang terakhir adalah saat dia opname sampai meninggal. Jadi, dalam 10 bulan merawat Onin, 8 kali dia berobat. Kalau dirata-rata sebulan sekali dia menemui dokter. Ah, anak cinta…kenapa ibu baru menyadari ini. Betapa selama ini dia menanggung sakit (catatan sakit Onin sebelumnya). Mengingat sakitnya, tampaknya aku memang tak punya pilihan lain selain ikhlas. Pergilah, Nak.. Onin anak ganteng ibu ga akan sakit lagi sekarang.

Pada Jumat malam kemarin, jenasahnya kutidurkan di bawah pohon Bisbul. Di antara tanaman kucai hias. Di situlah ia suka berdiam lama. Saat masih sehat, apalagi setelah sakit dan suka menyendiri (perihal sakitnya Onin akan kuceritakan pada halaman lain). Hingga hari ini masih kunyalakan lilin pada tiap malam. Entah akan kulakukan sampai kapan. Mungkin sampai perasaanku lebih lega. Setelah betul-betul ikhlas dan membebaskan diri dari rasa bersalah yang berlebihan.

Suasana rumah tak akan lagi sama. Tapi Onin, anak meong gantengku sudah memberiku pengalaman berharga. Kebahagiaan kecil yang tak semua orang bisa pahami. Kebahagian bahwa kami saling mencintai. Selamat jalan, Onin sayang…sampai ketemu pada saatnya nanti.










Komentar Via Website : 127
PILOSE ANTLER CAPSULE
06 Desember 2016 - 16:57:31 WIB
Blog Anda Keren min, ane selalu simak beritanya https://goo.gl/MNA1FP | https://mysp.ac/3fn83 Mantep abiss!!!!!!
obat pilek menahun
09 Januari 2017 - 08:46:51 WIB
semoga kebaikan anda dibalas dengan yang lebih baik
https://goo.gl/aIyebG
https://goo.gl/UbPTZv


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)