Kisah

UNYIL MALAIKAT KECILKU

Nita Indrawati Arifin | Rabu, 01 Oktober 2014 - 06:52:00 WIB | dibaca: 2698 pembaca

Unyil Kecil

Kala ini sekitar bulan Maret tahun 2009. Pagi pagi ketika saya membuka rumah  tempat saya mengontrak, saya menemukan seekor kucing kecil, dekil, kotor dan terlihat jelek  karena kurus. Kucing tersebut berwarna putih kuning. Pada saat itu saya memang mempunyai kucing yang juga putih kuning yang saya adopsi juga dari depan kontrakan saya, tapi memang dia sedang bermain entah kemana, kucing itu saya namakan Uning. Saya pun lantas berfikir apa iya ya ini si uning tapi kenapa jd seperti ini? Kecil, kurus, dan dekil. Saya fikir aaah mungkin saja karena iya bermain dari kemarin dan belum pulang dan akhirnya menjadi seperti itu. Saya pun mengambil kucing kecil tersebut dan memasukkannya kedalam rumah, langsung saya mandikan, setelah itu saya keringkan dengan handuk dan saya beri makan dan minum, tp dia belum mau makan sama sekali, hanya minum. Setelah minum lantas saya membawanya ke kamar mandi dan mengatakan padanya bahwa itulah tempat dia nanti untuk buang air besar dan kecil. Tidak lama setelah itu, muncullah uning yang habis bermain semalaman. Daaaan saya kaget ternyata itu bukanlah uning. Saat ini ada pacar saya, kemudian pacar saya mengatakan, ya sudah kita namakan unyil saja karena iya begitu kecil. Jadilah nama si kucing kecil itu Unyil.

Kala itu saya belum mengenal steril. Dan ketika mengetahui bahwa unyil itu betina, tidak menyurutkan niat saya untuk mengadopsinya, sayapun berfikir ya sudahlah uning toh memang betina juga, biar sekalian ada temannya. Apapun yang terjadi nanti, saya yakin, Tuhan sayang sama saya dan tidak akan membiarkan kami kelaparan karena mengadopsi mahluk ciptaanNya yang memang membutuhkan tempat beteduh dan kasih sayang.

Selama dua hari unyil tidak mau makan sama sekali dan hanya minum dengan cukup banyak. Setiap kali habis minum dan ia ingin buang air kecil iapun pergi ke kamar mandi. Sungguh kucing kecil yang sangat pintar dan saya sangat terharu.

Setelah hari ke dua berlalu barulah ia mau makan dan setiap makan seperti yang khawatir tidak akan dapat makanan lagi, ia makan dengan sangat cepat dan semua dihabiskan. Bahkan uning abangnya sering mengalah. Saya benar benar sedih melihatnya. Begitu berat perjuangannya diluar sana ketika belum bertemu dengan saya hingga makananpun ia takut esok tak akan ada lagi. Sayapun berkata, nak makan pelan pelan yaaa... jangan takut, ini rumah unyil, dan makanan selalu ada untuk unyil. Sekarang tidak kelaparan dan kehausan, juga tidak basah dikala hujan dan kepanasan dikala kemarau. Unyil tidur di dalam rumah ini nak.

Lambat laun setelah beberapa bulan barulah ia makan secar normal dan mulai dekat dengan uning. Mereka selalu bercanda dengan sangat heboh setiap saat. Saling menyayangi. Semakin hari semakin akrab , dan ketika saya memperhatikan setiap kali mereka bercanda, saya berfikir dalam hati, ko si uning becandanya kasar amat padahal kucing betina. Setelah saya cek ulang , waaaa... ternyata uning itu jantan... hahahha.. pantaslah dia bercanda kadang kasar :D

 

Uningpun Pergi Meninggalkan Unyil

Hari demi hari dilalui. Saya dirumah mungil ini hidup bertiga dengan 2 nyawa lainnya yaitu unyil dan uning. Tapi ketika kira 3 - 4 bulan setelah unyil hadir dirumah. Abangnya, uning akhirnya pergi meninggalkan kami semua. Sepertinya terkena virus panleu dan sangat cepat tidak sampai 24 jam sudah meninggal. Betapa sedihnya saya, dan bertambahlah kesedihan saya meningat kini unyil tidak ada teman bermain dan kesepian. Saya selalu menangis ketika melihat unyil. Dan memang terlihat beda, unyil tidak lagi ceria seperti sebelumnya.

Seiring dengan berjalannya waktu, unyil tidak mau bermain dengan kucing manapun. Padahal di lingkungan saya tinggal ,banyak kucing kucing. Tapi dia enggan dan sama sekali tidka mau bermain dengan mereka. Bahkan saya selalu membawanya kerumah orangtua saya yang berjarak beberapa ratus meter dari tempat tinggal saya, dengan tujuan agar ia bisa akrab dengan saudara saudaranya yg disana karena di sana pada saat ini ada sekitar 15 ekor kucing yang dipelihara ibu saya, tapi sama sekali unyil tidak suka. Padahal setiap saya bawa kesana, semua kucing kucing disana menghampiri mungkin berniat ingin kenalan dan mengajak bermain tp unyil terlihat kesal :D

 

Unyil Bersahabat dengan Manusia

Tapi anehnya unyil itu sangat menyukai manusia, dia sangat mudah bergaul dengan manusia. Siapapun yang datang kerumah mungil kontrakan kami, ia akan langsung menghampiri dan menjilati bahkan tak jarang naik kepangkuannya. Dan unyil juga sangat menyukai berada di tempat orang orang banyak seperti, tempat jual pulsa, warnet bahkan tukang nasi goreng. Bang toyib tukang nasi goreng yang setiap malam mangkal di depan gerbang kontrakan kami sangat sayang dengan unyil, iya menyediakan satu bangku untuk unyil dan unyil dengan santainya duduk sambil bang toyib menggoreng nasi dan orang orang silih berganti membeli dan memesan dagangan bang toyib. Bang toyib si tukang nasi goreng pun kerap kali bercanda dan memanggil manggil nama unyil setiap kali unyil datang. Bahkan setiap dia lewat depan pintu kami sambil membawa nasi goreng pesanan penghuni kontrakan sini, ia selalu berteriak memanggil nama unyil supaya unyil keluar , kalau unyil sedang berada di dalam. Ia selalu berteriak menggoda unyil dengan berkata ; nyiiiilll.. keluar nyiiill.. nih bang toyib ada es krim nih nyiiilll...!!! sini donk unyiiill main keluaar... ! :D . begitulah saking sayangnya bang toyib dengan unyil, juga mayoritas warga tempat tinggal kami yang sudah mengenal unyil pasti akan sayang dengan unyil, karena dia memang benar benar berbeda dari kucing kucing lainnya. Entahlah , dia benar benar anugrah yang di titipkan Tuhan kepada saya.

Unyil Beberapa Kali Hilang

Unyil kecil sudah beberapa kali hilang. Saya mencarinya kesana sini, keseluruh wilayah sini. Sambil memanggil namanya dan juga menangis. Dan entah mengapa, hampir selalu saya menemukan kembali keesokan harinya pada sekitar waktu subuh. Hilang pertama kali ketika belum lama saya adopsi, saya cari kesana sini tak jua saya temukan. Dan akhirnya saya menemukan dia di wilayah belakang dekat warung nasi, mungkin dia bingung arah jalan pulang , dan disitu banyak kucing pula, dan mungkin banyak sisa sisa makanan. Duuuh langsung saya menangis ketika menemukan unyil kembali, dan langsung saya gendong pulang.

Unyil hilang beberapa waktu setelahnya, seharian saya mencari dan tidak di temukan. Sudah berkeliling tak nampak juga. Saya menangis sepanjang malam dan berdoa juga solat tahajud. Dan saya selalu bernazar setiap kali kehilangan unyil. Bermacam macam nazar saya setiap kali saya bermunajat kepada Allah atas kehilangan kecintaan saya itu. Dari mulai bernazar akan memberikan ikan yang banyak kepada kucing kucing jalanan manapun yang saya jumpai di wilayah sini, kemudian bersedekah sekian nominal sampai saya merelakan perhiasan saya yang manapun yang terbagus boleh di pilih dan saya berikan kepada ibu saya jika kelak Allah mengabulkan doa saya untuk bertemu kembali dengan unyil. Alhamdulillah Allah selalu mengabulkan doa saya yang dengan penuh air mata dan pengharapan agar unyil dikembalikan ke tangan saya dan saya masih diberi kesempatan untuk merawatnya lebih lama lagi. Dan sayapun selalu memenuhi nazar saya tersebut karena rasa syukur yang begitu luar biasa atas kejadian yang sangat menyedihkan yang akhirnya bisa saya lewati.

 

Unyil Sakit Parah

Saya lupa persisnya, tapi yang pasti, seingat saya, unyil masih belum lah dewasa, mungkin belum berumur 1 tahun. Dia sakit parah, awalnya tidak mau makan, dan akhirnya menjadi berhari hari tidak mau makan sama sekali, sampai sepuluh hari dia tidak makan sama sekali , hanya minum sepanjang hari. Dan sudah pasti dia tidak buang air besar sama sekali karena memang tidak ada makanan yang masuk sama sekali, ia hanya buang air kecil saja selama seminggu, karena hanya air minumlah yang masuk ketubuhnya. Sudah segala macam makanan saya coba berikan namun ia menolak. Dan saya tidak menduga sama sekali kalau dampaknya bisa berakibat fatal. Unyil semakin lemah, jalanpun kadang terjatuh, bahkan dia sudah tidak lagi sanggup memanjat tempat tidur saking lemahnya dan tidak ada tenaga. Saya semakin panik, karena waktu itu memang masih sangat jarang dokter hewan disini. Dokter hewan langganan kami setelah pensiun, beliau kembali ke kampung halamannya bersama keluarganya dan tidak lagi praktek disini. Dan dokter langganan kami yang berikutnya amat sangat sibuk dan selalu keluar kota, beliau sedang tidak bisa dipanggil kerumah. Sudah pasti saya amat sangat kebingungan. Akhirnya saya membuka yellow pages, buku kuning yang berisi alamat alamat. Saya telpon satu persatu setiap tertera nomor telpon dokter hewan. Namun hampir saya putus asa karena mayoritas mereka sudah tidak praktek lagi atau sudah tidak tersambung nomor telpon tersebut. Akhirnya setelah nyaris berputus asa, ada juga dokter hewan yang bisa di hubungi. Setelah mencatat alamatnya dengan lengkap, sayapun mempersiapkan untuk membawa unyil. Kala itu saya belum mempunyai petcargo maupun keranjang rio , wadah tempat kami para pecinta kucing membawa kucing kemanapun kami pergi. Lantas unyil kecil , saya masukkan kedalam kotak kado seukuran kotak sepatu agak besar sedikit. Karena sudah sangat lemah, unyil kecil hanya diam dan tidak berontak di dalam kotak kado tersebut, tapi tentu saja bagian atasnya hanya saya tutup sebagian. Saya membawanya dengan naik kendaraan umum. Setelah berganti angkot sebanyak dua kali, sayapun melanjutkan perjalanan ke tempat dokter hewan tersebut dengan naik ojek. Setelah nyasar sana sini karena si tukang ojekpun tidak mengetahui alamat tersebut dengan pasti, akhirnya sampai jugalah kami di alamat yang di tuju. Ternyata dokter itu sudah lumayan senior dan sepertinya tidak buka praktek secara umum, hanya membuka kliniknya jika ada pasien yang mau berobat. Tapi memang rejeki saya. Alhamdulillah saya menemukan dokter hewan untuk unyil yang saat itu memang sudah dalam kondisi kritis. Setelah bertemu dengan dokternya, beliau memeriksa unyil dan mengecek apakah dia dehidrasi, dengan menarik kulitnya, dan ternyata unyil masih belum dehidrasi. Dan unyil tidak di suntik sama sekali, tidak diberikan obat juga. Sebenarnya saya agak kecewa juga, dan saya meminta di infus namun dokter tersebut mengatakan jika mau di infus, saya harus membawa infus tersebut pulang dan memasangkannya untuk unyil dirumah. Beliau akan mengajarkan kepada saya untuk menanganinya,namun saya menolak dengan alasan saya amat sangat tidak tega untuk melakukannya. Akhirnya tidak jadi di infus oleh sang dokter karena menurut beliau sayang infusnya mubazir karena saya harus menebus satu botol tp hanya terpakai sedikit. Menurut beliau tidak apa apa tidak di infus. Kondisi masih baik, walaupun sudah sangat lemah unyil kecilku. Dokter hanya menyuruh saya membeli antibiotik sesuai dosis yang beliau anjurkan dan juga vitamin untuk anak anak dan madu. Sayapun bingung kenapa beliau tidak meresepkan obat, menurut beliau tidak perlu mengkonsumsi obat, InsyaAllah itu sudah cukup asalkan saya memberikan sesuai anjuran sang dokter. Di asmpign antibiotik dan vitamin anak anak. Saya juga harus memberikan kunign telur plus madu sehari 3 kali untuk unyil. Alhamdulillah setelah tiga hari berjalan, unyil sudah jauh lebih sehat. Dan dokter menganjurkan memberikan ayam atau hati yang di rebus dan di hancurkan kemudian di siram juga dengan air kaldunya. Dan dia mau memakannya. Puji syukur kehadirat Allah, akhirnya setelah seminggu saya melakukan hal tersebut, unyil sudah kembali sehat. Saya merasa baru terbangun dari mimpi buruk. Saya benar benar tidak menyangka unyil masih bisa hidup kembali.

Teringat kata sang dokter ketika saya membawa unyil ketempat dokter senior tersebut. Beliau memberi nasihat kepada saya yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup. Beliau mengatakan, dengan saya memelihara kucing, artiny Tuhan sudah memilih saya untuk di titipkan amanah dan itu harus di jaga sampai akhir hayat. Juga termasuk syiar bahwa kucing itu hewan kesayangan Rasulullah salallahu alaihi wasallam. Dan saya bercerita, ini pertama kalinya saya mendapat tanggung jawab penuh dalam memelihara kucing. Sakitpun di tangan saya, tanpa campur tangan ibu saya sama sekali. Karena sebelumnya, ketika kucing kucing kami sakit, saya tidak pernah mau bersusah payah memberikan obatnya, ketika dokter sudah datang dan memberikan obat. Tugas ibu sayalah yang sehari hari mengurus mereka dan memberikan obat. Karena mereka semua dirumah ibu saya. Tapi kehadiran unyil merupakan tanggung jawab saya sepenuhnya atas nyawanya. Tidak heran ketika unyil kecil akhirnya sembuh, tidak henti henti saya memanjatkan syukur kehadirat Allah dan menangis haru. Untuk pertama kali dalam hidup saya di serahkan tanggung jawab untuk menjaga sebuah nyawa. Dan itu tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup. Dan perjuangan juga semangat unyil untuk hidup lebih lama, membuat saya semakin bersemangat lagi. Tuhan telah menyembuhkan malaikat kecilku yang sangat berharga. Melihatnya kembali normal, merupakan hadiah termahal dalam hidupku. Dan unyil kembali ceria bermain main dengan saya seperti sedia kala.

Menunggu Saya Sepanjang Hari Hingga saya Pulang

Unyil itu hidupnya benar benar tergantung dan ga bisa jauh dari saya. Dia benar benar tidak mau bergaul dengan kucing manapun sepeninggal uning abangnya. Kemanapun dan apapun yang saya kerjakan, dia akan mengikuti gerak gerik saya. Saya sering menyebutnya, unyil itu bayangan saya. Saya kedapur, dia ikut ke dapur, sekalipun sedang tertidur nyenyak, saya keruang tamu, dia pun ikut ke ruang tamu. Saya ke depan pintu, diapun mengikuti. Saya ke tempat tidur, diapun naik. Tapi ada satu hal yang dia sangat tidak suka, dan akan marah,sayapun tidak mengerti mengapa. Setiap kali saya berbicara dengan seseorang di telpon. Dia akan sangat marah dan berteriak juga kadang menggigit saya. Apa mungkin dia merasa tersisihkan karena saya sedang berbicara dengan seseorang di telpon tersebut ya?

Kira kira empat tahun yang lalu saya mulai sering pergi ke Kuala Lumpur, Malaysia , sesekali ke singapura untuk urusan kerjaan dan klien di sana. Kadang beberapa bulan sekali. Dan untuk pertama kalinya saya pergi meninggalkan unyil selama 9 hari. Rasanya seperti bertahun tahun lamanya. Saya tidak tenang disana karena kepikiran unyil sepanjang malam. Kala itu unyil saya titipkan sama asisten rumah tangga yang bekerja setiap hari ke rumah ibu saya. Saya meminta dia untuk menjaga unyil dan memberinya makan sehari 3 kali. Semua kebutuhan makanan sudah saya sediakan. Dan saya berpesan agar jendela rumah saya jangan di tutup karena unyil benar benar sendirian jadi tidak mungkin saya kurung, dia akan setres di dalam. Jadi sengaja jendela saya minta untuk di buka 24 jam agar unyil bisa bermain diluar di siang hari, dan makan di dalam serta tidur di dalam.

Tapi apa yang terjadi? Namanya juga orang yang mungkin tidak sayang kucing ya, jadi hanya sekedar menjalankan tugas tanpa perduli apapun. Dia hanya memberi makan dan meletakkannya di dalam, entahlah di makan atau tidak oleh unyil, dia sama sekali tidak perduli, bahkan saya yakin dia tidak memberi makan sehari 3 kali seperti pesan saya. Siapa yang tahu? Toh unyil tidak bisa saya tanya dan menjawab berapa kali dia diberi makan dalam sehari. Yang saya tau, setiap saya pulang, saya mendapati unyil dalam keadaan sangat kempes perutnya. Sudah pastilah dia sangat kekurangan makan selama saya tinggal. Dan ada satu hal yang membuat saya amat sangat menangis dan sangat setres juga hampir pingsan ketika beberapa tetangga melaporkan ; selama saya pergi, unyil sepanjang hari termenung berdiam diri di teras tempat tembok tempat duduk di depan pintu rumah kami. Mungkin malampun ia tidak masuk ke dalam rumah. Karena unyil benar benar menunggu saya kembali pulang. Tidak bisa di ceritakan gimana hancurnya hati saya mendengar cerita tersebut. Dan saya tidak bisa berbuat apa apa karena ketika saya harus pergi, ya saya tidak bisa tidak, saya dengan sangat terpaksa harus meninggalkan unyil. Dan setelah kejadian itu, semakin galau dan hancurlah hati saya setiap akan pergi meninggalkan unyil keluar negri. Pernah saya menitipkan pada salah satu tetangga, dan mungkin memang unyil dikasih makan dan di ajak main juga. Tapi orang tersebut sepertinya memang memanfaatkan secara materi. Bagi saya tak apalah yang penting unyil di jaga dengan baik dan makan semestinya. Saya juga berpesan kepada asisten rumah tangga saya yang sebelumnya untuk memberi makan juga kucing kucing yang ada di teras. Tapi mungkin dia tidak peduli. Dengan unyil saja dia asal asalan, manalah mungkin dia mau repot memberi makan kucing kucing diluar. Padahal semua makanannya sudah tersedia tinggal dia memberikannya saja.

Setelah kejadian tetangga laporan itu dan tetangga lain yang aku titipikan unyil juga ternyata matre itu, dan mulai khawatir akan nasib unyil setiap kali ditinggal pergi. Akhirnya ada sekitar dua tahun lebih , saya selalu menolak ketika harus pergi ke Kuala Lumpur, dengan alasan tidak bisa meninggalkan unyil. Klien akhirnya mengerti dan menerima alasan tersebut biarpun terkesan sangat tidak profesional. Sebagai gantinya, merekalah yang terpaksa harus sering sering datang ke jakarta untuk bertemu dengan saya. Semua ini karena saya sangat mencintai unyil dan saya akan melakukan apapun.

Steril

Pada hari sabtu, 14 april 2012 saya mensterilkan unyil juga dido, kucing betina yang ada dirumah orang tua saya. Itu kali pertama dan awal permulaan saya mensteril kucing kucing yang ada dirumah, juga kucing kucing yang ada di lingkungan tempat saya tinggal, baik yang tidak berpemilik, maupun yang bepemilik tapi kurang mampu. Karena saya tidak tega jika melihat mereka beranak pinak dan kemudian di pisahkan dengan induknya dan dibuang begitu saja bagaikan sampah bayi bayi kucing tersebut oleh masyarakat sekitar yang memang berfikiran picik tentang kucing. Kala itu unyil yang berusia sekitar 3 tahun tidak pernah hamil dan melahirkan sama sekali, tapi tetap saya steril. Justru karena dia tidak pernah hamillah membuat saya bersikeras untuk mensterilkan, agar bisa terlihat apakah unyil mengalami gangguan dalam reproduksinya atau ada suatu penyakit yang tidak terdeteksi. Alhamdulillah unyil sehat dan tidak menderita penyakit apapun. Dia membawa perubahan dalam hidup saya, setelah mensteril unyil, saya mulai mencicil steril beberapa ekor perbulan di Steril Yuk, sebuah wadah swadaya para pecinta kucing dengan menyelenggarakan steril dengan harga bersubsidi dan dilakukan oleh dokter dokter yang sangat pengalaman dalam hal steril kucing dan sekarang sudah mulai menerima steril anjing juga. Saya sangat bersyukur bisa berkenalan dengan para tim Steril Yuk , dan membuat saya sadar pentingnya steril kucing.

Pagi itu saya dan ibu saya juga diantar salah satu tetangga kami yang selalu menemani ibu saya pergi, berangkat untuk steril unyil dan dido. Setelah mengantri dan mendapat giliran, dan kemudian unyil dan dido selesai di operasi, kami menggendongnya ke ruang tunggu dan meletakkan mereka sambil menanti mereka sadar dari pingsannya. Tidak lama kemudian dido sadar. Tapi saya tunggu tunggu kok unyil tidak sadar sadar juga ya, saya yang memang benar benar baru pertama kali dan membawa kucing yang sangat saya sayangi pula, benar benar sangat khawatir akan terjadi apa apa dengan unyil. Sampai akhirnya ibu saya pulang terlebih dahulu dengan membawa dido dan di temani tetangga kami itu. Setelah memanggilkan taksi untuk mereka, sayapun kembali menjaga unyil dan berharap unyil segera sadar. Tapi hingga benar benar sore, bahkan menjelang magrib barulah unyil sadar, yang ternyata dia hanya manja, dan membuat saya khawatir , hehehe.. setelah ini barulah saya lega dan membawanya pulang. Sesampai dirumah, unyil saya letakkan dalam kamar saya, di atas karpet dan msh kondisi setengah sadar dan tertidur. Sampai tengah malam dia tidak berubah posisi sama sekali, saya pun kembali khawatir. Saya tak henti henti memantau kondisinya dan mengecek denyut jantungnya. Tak putus putus saya berdoa untuk unyil agar tidak terjadi hala hal yang tidak di inginkan. Tapi kira kira sekitar pukul 02 dini hari, tiba tiba dia bangun dan berjalan ke arah dapur dan saya ikuti, dia menuju kamar mandi dan minum langsung dari bak. Karena unyil sangat senang sekali minum langsung dari bak, padahal saya selalu menyediakan air minumnya di dalam ruangan, dan unyil sangat kuat dalam hal minum. Alhamdulillah .... lega rasa hati ini melihat dia sudah berjalan dan minum. Saya peluk unyil dan saya tidurkan kembali karena itu sudah pukul 2 dini hari. Dan saya bisa tidur dengan nyenyak akhirnya.

Unyil menjalani pasca steril kurang lebih hampir dua minggu barulah benar benar kering dan sembuh, dan selama ini dia tidak saya ijinkan keluar sama sekali. Hanya di dalam rumah saja. Alhamdulillah setelah dua minggu, unyil kembali sehat dan saya tenang karena tidak ada masalah dengan sterilnya juga kesehatannya. Juga sekarang kucing kesayangan saya itu sudah aman dan saya sudah mulai berpartisipasi dalam gerakan sterilisasi kucing kucing kesayangan dan juga lingkungan. Demi kesejahteraan si kucing dan juga manusia itu sendiri. Karena kalau tidak di kendalikan dengan steril, tidak terbayangkan bagaimana nasib kucing kucing itu di antara manusia manusia yang sudah kehilangan akal budinya. Saya memberi makan kucing kucing wilayah sini, sehari dua kali saya berkeliling kampung dan mereka sudah menunggu kedatangan saya dengan membawa makanan tentunya. Alhamdulillah sudah begitu banyak mereka yang saya steril, baik betina maupun jantan. Tapi anehnya tidak pernah habis saya mensteril, ada saja kucing kucing wajah baru ntah dari mana datangnya. Jadi, siapa bilang steril akan membuat punah kucing kucing di muka bumi? Yang berbicara seperti itu, sudahkah melakukan aksi sterilnya dan membuktikannya sendiri? Steril itu merupakan tindakan yang sangat manusiawi dalam melindungi kucing kucing di muka bumi ini. Dan tidak akan pernah punah mereka.

Alhamdulillah seluruh kucing indoor saya juga yang dirumah orang tua saya sudah saya steril semua, kucing kucing teras para sahabat unyil pun sudah di steril. Kucing kucing di kampung sekitar sini, sampai detik ini masih saya melakukan aksi steril dan entah sampai kapan berhenti. Karena mereka tidak pernah habis dan nasib mereka sangat memprihatinkan.

 

Unyil Kucing Pintar dan bersahabat

Unyil itu seekor kucing kampung yang sangat pintar, menyenangkan, lucu, ramah terhadap manusia dan cantik. Semua orang menyukainya. Tua muda, besar kecil, laki laki perempuan, ibu ibu bapak bapak. Siapapun yang melihatnya pasti akan menyukainya. Dia benar benar bagaikan malaikat kecil bagi saya. Apabila sedang ada dirumah, saya selalu membawa unyil berjalan jalan di sore hari di seputar wilayah sini. Dengan mengenakan baju yang lucu lucu, dia berjalan mengikuti saya dengan sangat bahagia. Dan sepanjang perjalanan tak henti henti unyil di sapa dengan para penduduk sekitar, terutama anak anak dan ibu ibu. Mereka bagaikan melihat sang bintang idola hahahah.... dan unyil dengan senang hati berhenti sejenak dan menjilati kaki anak anak tersebut yang datang mengerubunginya. Stelah itu barulah kami melanjutkan perjalanan. Kadang saya membawanya kermh orang tua saya yang berada di komplek tak jauh dari tempat saya tinggal. Kadang saya bawa dia ke panti asuhan, karena saya sudah kenal dekat dengan pemilik panti. Yang kadang juga membawa titipan infak teman teman untuk di sampaikan ke panti tersebut. Unyil itu memang sangat berbeda dengan kucing lainnya. Setelah berada di dalam rumah ustazah pemilik panti, dia meminta duduk di sofa atau kadang memilih di teras dan melihat lihat pemandangan kearah sekeliling karena rumah ustazah itu berada di lantai dua. Ustazahpun tertawa tawa melihat tingkah polahnya yang sangat menggemaskan bagaikan tingkah polah anak manusia. Awal awal saya setiap membawa unyil selalu menggunakan harness dan penuntun. Tapi alama lama saya tidak lagi menggunakan alat bantu tersebut. Dia akan berjalan setengah berlari mengikuti arah langkah saya. Kalau sudah kelihatan lelah, saya lantas menggendongnya.. nanti dia akan minta di turunkan kembali. Dan sesampainya di rumah kembali, dia akan langsung menggeletak di lantai seperti kelelahan, dan saya langsung melepaskan bajunya, kemudian dia minum sebanyak banyaknya karena abis berolah raga sore hehehe...

Unyil itu badannya sehat dan gemuk tapi tidak obesitas, ya cukup padatlah. Layaknya kucing sehat dan terpelihara dengan baik. Saya menjaga unyil bagaikan orang tua menjaga anak kandung darah dagingnya sendiri. Seperti itulah saya menjaga unyil. Makananpun sangat higienis dan bersih yang saya berikan untuk unyil. Kami sekarang sudah mempunyai dokter hewan langganan lagi, dikomplek yang berjarak beberapa kilo meter dari rumah. Ya sekarang tidak perlu panik mencari kesana sini apabila kami membutuhkan. Kami tinggal membawa kucing kucing itu ke klinik tersebut. Dokter hewan itupun sudah mengenal unyil dan beliau selalu tertawa setiap melihat unyil datang. Karena unyil dengan mengenakan baju, dan berjalan dengan santainya memasuki klinik dan tidak takut dengan manusia sama sekali. Di taruh di atas timbanganpun dengan santainya dia duduk dan tidak mau beranjak.

 

Mendapat Pengasuh yang Sayang

Setelah dua tahun lebih saya menolak untuk pergi ke Kuala Lumpur urusan kerjaan karena alasan unyil. Akhirnya setelah saya melihat tetangga sebelah rumah sayang juga dengan kucing dan mereka juga menyayangi unyil, terbersit niat untuk menitipkan unyil kepada mereka. Dan saya percaya sepenuhnya dengan mereka bahwa unyil akn di rawat dengan baik selama saya pergi dan sahabat sahabatnya di teras juga tidak kelaparan karena mereka diberikan makan secara teratur oleh tetangga sebelah. Semua makanan sudah saya siapkan. Ketika pertama kali saya menitipkan kepada mereka. Dan saya sudah memberikan wejangan ini itu, dan anaknya saya minta untuk menginap di rumah saya saja agar unyil bisa tidur di kamar karena ada yang menemaninya. Dan saya meminta agar radio kesayangannya jangan pernah dimatikan. Karena setiap saya keluar rumah, saya selalu menyalakan radio tersebut untuk teman unyil di dalam. Dan biasanya dia akan tenang di dalam karena ada suara musik. Waktu itu ketika saya pergi ke Kuala Lumpur, tiba tiba radio terhenti dan si anak ibu sebelah tidak tau bagaimana cara menghidupkannya kembali dengan remote. Mereka pun panik dan menghubungi saya. Khawatir unyil tidak bisa tidur karena tidak ada suara musik. Akhirnya sang ibu menyuruh anaknya untuk menepuk nepuk punggung unyil di atas tempat tidur sampai dia benar benar tertidur. Heheheh mereka memperlakukan unyil seperti sedang mengasuh balita manusia. Dan ternyata selama saya tinggal, kata mereka unyil selalu mau makan. Mungkin karena di perlakukan dengan cinta. Dan saya yakin mereka tidak bohong karena setiap saya pulang, saya melihat unyil tetap dalam kondisi sehat dan badannya gemuk. Artinya dia tidak kekurangan makan. Dan sahabat sahabat unyil di teraspun mendapata makan yang cukup. Alhamdulillah saya mendapat orang yang amanah untuk menjaga mahluk mahluk lucu kecintaan saya tersebut. Dan sayapun tenang kemanapun saya pergi. Tapi tetap, ibu saya hampir setiap sore datang mengunjungi apakah unyil baik baik saja dirumah selama saya tinggal pergi.

 

Kebiasaan Unyil Menyambut Saya Datang

Satu kebiasaan unyil ketika saya pulang kerumah setelah seharian beraktifitas diluar rumah, begitu saya membuka pintu dan mengucapkan salam. Dia akan langsung berlari lari dari dalam kamar dan menyambut dengan teriakan yang sangat lantang. Dan adri dalam kamar terdengar musik dari radio kesayangan. Kemudian dia akan menjilati kaki saya dan mengendus pakaian saya apakah berbau kucing lain hehehe.. tak jarang kaki saya di gigit mungkin karena tercium bau kucing lain. Unyil itu sangat pencemburu. Setiap dia sedang bermain diluar bersama saya, dan kucing kucing di lingkungan sekitar datang menghampiri saya karena meminta makanan dan juga mengharapkan perhatian dari saya, unyil akan langsung marah dan semakin lari mendekati saya. Dia tidak perduli seberapa banyak makanan yang dibagikan untuk teman temannya, dia hanya tidak ingin saya di ambil kucing lain. Segitu cintanya dia dengan saya. Dia akan memarahi siapapun yang mencoba mendekati saya.

 

Tidak Ingin Saya Pergi

Hal yang sangat memberatkan saya sehari hari ketika harus keluar rumah untuk beraktifitas yaitu  unyil akan berteriak teriak sekencang kencangnya dari dalam jendela jika dia saya kurung, tapi jika dia saya keluarkan, diapun akan berteriak teriak dengan sangat kencang dan berlari mengejar saya. Tak jarang saya harus kembali pulang beberapa kali dan menggendongnya kerumah. Dan terpaksa saya masukkan biarpun dia berteriak teriak tapi toh ketika dia lelah dia akan tertidur dengan nyaman di dalam rumah atau makan dan minum. Itulah yang selalu menjadi dilema. Jika sedang tidak ada urusan yang sangat penting, saya tidak akan keluar rumah sama sekali. Saya lebih senang menghabiskan waktu seharian di dalam rumah bersama unyil, dan dia terlihat sangat gembira ada saya di sampingnya.

 

Kepergian Unyil Selama lamanya

Unyil itu matahari saya, nyawa saya, nadi saya, dan sumber kehidupan saya. Dia anak gadis teristimewa yang saya punya, dia bukan sekedar kucing.  Sepanjang hari kami berbagi kehidupan berdua dikontrakan mungil ini. Unyil tidur harus ditempat tidur dengan saya dan berbagi bantal yang sama biarpun begitu banyak bantal yang disediakan.  5 tahun kehidupan kami jalani bersama. Dia sumber tenaga saya untuk gigih mencari nafkah.  Tidak mampu saya mengungkapkan begitu besar cinta saya untuknya. Bahkan klien klienpun mengerti bagaimana berartinya dia untuk saya, kadang saya sering menolak prgi ke KL untuk urusan kerjaan hanya karena unyil. Unyil memang satu satunya yang ada di dalam kontrakan saya, dia punya banyak saudara, dan itu semua dirumah ibu saya, dia punya banyak sahabat, dan mereka diteras, ketika hujan mreka masuk, biarpun makan semua sama higienisnya dan bergizi.. walau memang unyil tetap mendapat yang terbaik karena dia agak susah makan.  Jika mengatakan saya pilih kasih, ya mungkin seperti itulah, karena unyil amat sangat  berjasa dalam hidup saya. She had unconditional love for me.
Dia dalam kehidupan nyata amat disukai semua orang, orang orang wilayah sini bilang kalau unyil itu berbeda. bahkan beberapa orang yang selalu  berinteraksi dengannya bilang kalau unyil itu merasa dirinya manusia, bukan kucing. Anaka anak wilayah sini memanggil saya dengan sebutan ; Mama Unyil" .  Tidak pernah saya mengajari mereka untuk panggilan itu, tapi mereka melihat bagaimana saya laksana seorang ibu terhadap anaknya  yang bagian dari hidupnya, seperti itulah saya memperlakukan unyil hingga anak anak kecilpun bisa menyimpulkan bahwa saya memang ibunya unyil. Dan unyil sangat ramah dan bersahabat dengan manusia. dia memang sangat pintar untuk seekor kucing.
beberapa hari sebelum sakit, saya membawanya ke workshop jahit saya untuk di ukur karena akan di buatkan baju. Kalau hanya mengukurnya, sayapun bisa melakukannya sendiri tanoa perlu membawanya pergi ke workshop. Tapi saya ingin memperkenalkan kepada penjahit, bahwa inilah mahluk kesayangan saya yang ada dalam rumah saya. Ketika di workshop, semua penjahit tertawa melihat unyil yang berjalan kesana kemari di dalam ruangan jahti, laksana mandor yang sedang mengontrol pekerja.

Itulah kenangan terakhir mereka melihat unyil.

Dan beberapa hari setelah itu, unyilpun sakit. Saya membawanya ke dokter, setelah diberi obat, dan hingga dua hari kemudian belum ada perubahan, dan hari minggu itu dan saya membawanya ke klinik lainnya dan meronsennya.

Saya memang ngotot tidak mau opname karena saya ingin merawat dia dengan tangan saya sampai detik akhir, dan itu janji saya dari awal sebelum dia sakit. Dan berusaha memberikan yang terbaik. kandang sudah dibuat senyaman mungkin, dengan alas lembut.  Dan tentunya cinta kasih yang tidak terlewat dalam setiap nafas terakhirnya, dan itu tidak akan pernah dia dapatkan seandainya dia di rawat di klinik. Bahkan klien dari malaysia sudah tiba di jakarta dari sabtu hingga selasa itu  yang memang sudah kami jadwalkan untuk meeting  produksi dengan saya, tapi saya tidak bisa menemui sama sekali karena tidak ingin meninggalkan unyil dan mengatakan pd klien bahwa: im sorry, i must keep an eye of unyil. every single minute is so significant for her. She is my life.  Dan  mereka mungkin kecewa tapi akhirnya mengerti dan berkata ; its okay wani, just take good care of unyil.
dirumah ibu saya pun kebanjiran, tapi saya tidak menjenguk, ini semua demi unyil. Saya  tidak ingin meninggalkan unyil yang memang membutuhkan saya. bahkan rabu ibu saya yang datang menjenguknya dikontrakan saya. Ibu saya faham betapa berharganya unyil dalam hidup saya.
Tidak perlu diceritakan bagaimana perhatian saya penuh untuk unyil dan tidak ingin meninggalkannya  sekejappun.

Beberapa hari terakhir dalam kondisi dia terbaring, saya selalu duduk di depan kandangnya dan berbicara dengannya.  saya memanggil  dengan suara lembut dan penuh kasih sayang  ; Unyiiiiiiiiillllll.....!!!! . Dia pun merespon dengan goyangan buntutnya sangat cepat.  Kemudian saya bertanya ; Unyil cantik kan nak? .  Dia menjawab menggoyangkan kembali buntutnya.  Lalu saya bertanya lagi ; Unyil sayang sama nda kan nak? ( nda adalah sebutan saya yang berarti bunda ) Dia pun lalu menggoyang buntutnya lagi dengan gerakan cepat. Lalu saya melanjutkan pertanyaan ; Unyil mau sabar nunggu dok nov datang dan pasangkan infus untuk unyil kan sayang?  Dan lagi lagi dia goyangkan buntutnya. ( karena saya sudah tidak sanggup menusukkan infus subkutan ketubuhnya yang seharusnya saya lakukan setiap pagi, hanya sampai hari keempat, tidak sampai hati saya melakukannya lagi , dan akhirnya saya menginginkan dia dipasangkan infus intravena yang langsung ke pembuluh darah ) dan salah satu dokter bersedia datang dan memasangkan untuknya.  Dan kemudian saya kembali bertanya ;  Unyil mau janji sama nda kalau unyil bakal sehat kan nak? . dia tidak menggoyang buntutnya sama sekali. Saya berfikir mungkin ini hal yang kebetulan saja.  Dan selama dua hari terakhir hidupnya, saya melakukan rutinitas itu berulang ulang, dalam sehari bisa beberapa kali, dan tiap kali pada pertanyaan yang sama ; unyil mau janji sama nda , kalau unyil bisa sehat kan nak?  Dia tidak pernah merespon dengan goyangan buntutnya...
L

Saya mungkin jahat, egois , dan kejam,..... karena masih memaksakan dia bertahan demi saya, walau kondisinya sudah sangat lemah. Akhirnya malam itu jumat, sekitar pukul 21.00 – 22.30 saya melarikannya ke klinik karena letak infusnya yang ditangan berdarah sehabis saya memangku untuk menyuapinya makanan dan memberi obat. Saya panik, dan menelpon dokter dan dokter sudah memberikan instruksi via telpon tentang apa yang harus saya lakukan. Darahpun sudah berhenti, tapi saya tidak puas, akhirnya saya melarikannya ke klinik untuk memastikan kondisi, dan sudah diperbaiki semua. Bahkan di klinik, dokter menyarankan saya membeli satu botol lagi infus untuk persediaan , yang sudah dicampur dengan cairan vitamin, untuk jaga jaga jikalau tiba tiba infus habis dan saya tidak perlu panik ke klinik karena sudah ada cadangan. Hanya mengganti dan menusukkan yang baru saja. Dokterpun kembali mengajari saya untuk mengganti botol cairan infus tersebut.

Singkat cerita, saya berniat tidur sebentar , dan sudah pamit dengan unyil dan berkata ; “ nda mo tidur sebentaaaaar aja, tapi unyil janji harus tunggu sampe nda bangun, ga boleh pergi ya sayang?  Dia pun merespon. Kondisinya sudah sangat menyedihkan, sudah sangat lemah dan dia benar benar bergantung pada penghangat  lampu yang saya letakkan di dalam kandang dan juga botol yg selalu terisi air hangat untuk dipeluknya. Itulah yang membuat suhu badannya tetap stabil. Tapi baru beberapa saat saya tertidur, dia menangis dan saya langsung terbangun, dan saya memutuskan untuk tidak tidur sampai ujung usianya.

 Di detik detik terakhir karena melihat penderitaan dia , akhirnya saya mengalah dan membisikkan ;  “ unyil, maafkan nda yang sudah jahat ya sayang..... kalo memang sudah tidak mungkin sembuh , unyil boleh pergi nak, nda sudah ikhlas, nda akan mintakan sama Allah supaya di hentikan penderitaan unyil ya nak. Nda sayang banget sama unyil. Unyil ga boleh menderita lagi ya sayang “

Sambil terus saya pegang tubuh dan kepalanya, dan saya urut urut punggungnya seperti yang sudah sudah. Karena takut kejadian berdarah lagi, saya tidak berani memangkunya, tapi saya memasukkan badan dan kepala saya kedalam kandang yang memang tidak besar itu, dan saya angkat  dan pegangi badan dan kepalanya.  Saya ingin dia merasakan denyut nadi saya menyatu dengannya untuk yang terakhir kali. Saya bacakan Alfatihah dan doa doa juga salawat. Hari hari sebelumnya pun saya bacakan salawat dan al fatihah sambil memegang tangannya, dan meminumkankan dengan air zamzam yang sudah di sertai doa doa.

Malam itu hujan sangat deras di sertai petir dan angin yang begitu mengerikan dan tak henti henti. Sayapun di depan kandangnya terus berdoa baik dalam hati maupun bersuara ; “ ya Allah mohon redakan hujanmu untuk kali ini, dan hamba mohon dengan sangat, jangan matikan listrik disini, karena unyil sangat membutuhkan lampu untuk sisa sisa terakhir umurnya. Hamba mohon ya Allah, ampunilah dosa dosa hamba, tapi hamba juga memohon jangan siksa unyil “.

Ternyata di komplek rumah ibu saya malam itu mati listrik hingga sore hari berikutnya, yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari tempat saya.  Namun di tempat saya tidak terjadi pemadaman sama sekali, Alhamdulillah doa yang saya panjatkan untuk unyil, di dengar Allah.

Akhirnya setelah saya berkata ikhlas, dan dia menjerit kencang disertai bulunya yang berdiri dan badan dan lehernya tegang, saya tahu itulah sakaratul mautnya.  Setelah itu seluruh badannya melemas dan kepalanya terkulai. ... tepat pukul 04.42, sabtu dini hari , 18 Januari 2014, MATAHARIKU, KEHIDUPANKU, DENYUT NADIKU juga NAFASKU..... telah pergi untuk selama lamanya.......

Selama 5 menit saya tidak melepaskan tangan saya dari tubuhnya, dan belum menghentikan infusnya karena tetesannya masih berjalan. Saya yang keras kepala ini masih berfikir mungkin dia masih ada. Setelah menyadari, akhirnya saya memutuskan untuk menghentikan infus dan membuka balutannya dengan sangat hati hati karena takut melukainya.  Dan barulah saya menangis sejadi jadinya... yang memecah kesunyian pagi itu. Tidak ada kata kata yang bisa melukiskan betapa hancurnya hati saya....

Tepat seminggu saya merawatnya dengan intensif dengan tangan saya dengan panduan dan pantauan 2 orang dokter, akhirnya unyil menghembuskan nafasnya yang terakhir. Dan Tuhanpun mengijinkan saya menepati janji saya untuk menjaganya sampai akhir hayatnya, benar benar dengan tangan saya, dan saya menginginkan saya ada di sampingnya dan yang dilihatnya dalam sisa umurnya.  Saya kosongkan semua jadual kegiatan, tidak menyentuh pekerjaan saya sama sekali selain menjaganya. Karena tidak ada yang lebih berharga dalam hidup saya saat itu selain berada di sisinya.

Kini tidak ada lagi suara nyaring yang selalu menjawab salam saya ketika saya membuka pintu rumah mungil ini. Rumah dan hati ini sudah benar benar kosong. Tidak ada lagi yang tiap pagi berjemur di teras demi mendapatkan matahari di tubuhnya. Tidak ada lagi teman saya berbicara, walaupun dia kucing, tp dia mengerti apa yang saya ucapkan dan dia selalu merespon dengan suaranya yang sangat nyaring.

Kalaulah kematian bisa mempertemukan saya dengannya, saya ingin menjalaninya detik ini juga demi agar tidak berpisah dengannya selama lamanya. Tapi kalaupun saya mati, belumlah tentu saya bisa bertemu dengannya, karena kini dia ada di surga, sedangkan saya manusia yang penuh dengan dosa, entahlah saya akan berdampingan dengannya atau tidak...

Ditulis oleh : ifriyawani. Dan orang orang biasa memanggil saya dengan sebutan ; nda unyil, dan itu sudah sangat melekat dalam kehidupan saya.