Kisah

Kerei dan Belang:

Kesetiaan yang Mengharukan

Nita Indrawati Arifin | Rabu, 10 September 2014 - 12:54:39 WIB | dibaca: 6340 pembaca

 Hati yang bertahun-tahun tercabik oleh luka dan air mata yang enggan tumpah karena luka itu, tiba-tiba luruh dan membalurkan perih, ngilu, senang, tentunya juga sebuah rasa bagaimana binatang peliharaan mampu memporak-porandakan kekerasan hati, meluluhkannya lagi, bahwa kesetiaan itu selalu ada, meski pada wujud dan tempat yang berbeda. Kesetiaan dua ekor anak kucing yang mulai remaja, Kerei dan Belang, kerapuhan dua kucing yang ternyata juga butuh kasih sayang.

 

Ya, sebuah kejadian dengan dua ekor kucing kami yang masih remaja, sontak mampu memberaikan air mata. Aku, wanita yang selalu dikatakan wonder women, hampir tak pernah menangis, bersama gelap malam dan dua ekor anak kucing dalam dekapan, luruh, aku menangis. Aku peluk erat dua kucing itu dan aku tiba-tiba ingat Serai dan Titah, dua gadis kecilku. Beginilah tentu mereka jika tiba-tiba aku tak ada. Makin deraslah air mata ku. Aku rindu anak-anak ku yang masih gadis tanggung, begitu dua kucing ini memperlihatkan, betapa mereka butuh juga kasih sayang.

Kejadiannya pada Selasa (2 April 2014) pagi, ketika kota Pekanbaru masih diselimuti kabut, bersama Mio kesayangan aku telah meninggalkan rumah, membawa serta puteriku yang mulai remaja, Serai Wangi Bumi, menuju sekolahnya. Jarak rumah dan sekolah Serai kira-kira 10 Km. Bersama ku dalam balutan kantong serta juga dua ekor kucing yang baru saja beranjak remaja, Kerei dan Belang. Karena takut berontak maka aku gantung dia di gantungan Mio dan aku jepit sambil mulutku tetap memanggil-manggil nama mereka.

Ya, pagi itu aku hendak membawa keduanya ke kedai kecil kami yang berjarak sekitar 13 Km dari dumah dan sekitar 3 Km dari sekolah Serai. Keduanya hendak kutinggal di kedai karena malam-malam mulai banyak tikus. Maksud hati, dengan adanya kucing, tikus tentu akan takut. Awalnya Serai udah protes, dia yang amat sayang sama kucing takut kalau di jalan Kerei dan Belang berontak dan lari.

“Ah, gak apa-apa kok Ye (panggilan Serai), dia kan tau suara mama. Sepanjang jalan mama akan panggil dia terus,” jawabku.

Begitulah, melaju dalam kecepatan awal 40 Km per jam tak ada masalah, sekali-sekali terdengar meongan Kerei dan Belang. Aku balas dengan meongan juga. Dua-duanya diam. Ketika kecepatan motor mulai 60 Km/jam Kerei dan Belang nampaknya kaget dan mulai meronta. Aku jepit dengan kaki sambil tetap memanggil mereka.

 Pagi itu memang agak terlambat kami berangkat, karena Serai biasanya pukul 6.30 WIB sudah aku antar. Hari itu kami dari rumah setelah waktu menunjukkan pukul 7.00 WIB. Takut Serai terlambat makanya aku harus agak kencang. Aku percaya Kerei dan belang akan baik-baik saja di kantong mereka, karena dua kucing ini patuh dan amat mengerti kalau kami sekeluarga sayang mereka.

Tiba-tiba sekitar 2 Km dari rumah jaraknya, entah bagaimana caranya, Kerei dan Belang sudah keluar dari kantong dan melompat ke jalan. Aku kaget dan segera menghentikan motor. Tapi mungkin karena kaget atau takut, keduanya sudah melompat ke balik rimbunnya rumput di pinggir jalan itu. Aku lihat situasi dan di sana dekat kedai orang yang berjualan keperluan harian, termasuk ikan dan ayam tentunya. Juga dekat rumah penduduk. Serai sudah protes takut telat. Akhirnya dengan berat hati aku putuskan meninggalkan Kerei dan Belang.

“Ya udah, ayo kita berangkat aja Ye, di sini kan banyak makanan karena ada kedai. Mudah-mudahan Kerei dan Belang baik-baik aja,” kataku.

Usai menurunkan Serai di sekolah aku lanjut ke kedai kecil kami. Berbenah sana sini sudah pukul 9.00 WIB, saatnya siap-siap ke kantor karena harus memimpin rapat pagi. Begitulah, seharian itu ada tiga rapat dan aku tak bisa lagi berpikir untuk balik dan mencari Kerei sama Belang.

Tapi hatiku tetap tak enak. Aku kepikiran terus dua kucing itu. Ada rasa sesal juga sedih. Aku takut dia terlindas kendaraan atau disiksa orang karena mencuri makanan. Tapi padatnya agenda kantor hari itu aku tak bisa balik dan mencari mereka. Serai pulang siang juga diantar anak buahku, meski lewat jalan yang sama aku memang tidak berpesan untuk mencari Kerei dan Belang, karena nanti yang antar Serai pulang menggerutu.

Seharian itu aku jalani aktifitas dengan perasaan terbagi pada Kerei dan Belang. Semua terasa tak enak. Tapi ada juga keyakinan, karena jaraknya belum terlalu jauh dari rumah, masih dalam jalan yang lurus saja belum ada belokan atau jalan utama, Kerei dan Belang mungkin saja bisa pulang. Karena hal yang sama pernah terjadi pada Caby, kucing warna abu-abu gelap kesayangan Serai, hilang hampir satu bulan tapi kemudian pulang kembali.

Begitulah. Pukul 22.30 Wib malam aku baru bisa beranjak dari kantor, usai halaman utama media ku di lay-out. Menyusuri jalan pulang, hati kembali ngilu. Kerei dan Belang, rasa-rasanya meongannya mengikuti dari belakang. Jalanan sudah mulai lengang, sehingga motor bisa dipacu diatas 60 Km/jam. 15 menit aku sudah sampai di lokasi Kerei dan Belang melompat tadi. Memperlambat motor dan aku menyebrangi jalan, karena dua kucing tadi melompat saat pergi, artinya di bagian kanan jalan yang kini aku lalui.

Duh, tiba-tiba mata ku berlinang. Di pinggir parit jalan, di atas rerumputan, duduk berdampingan Kerei dan Belang. Tentu saja matanya terus menerus melihat jalan, tidak tidur. Seolah-olah menunggu sesuatu. Aku pun memanggil, pus...pus, Kerei...Belang....

Meongannya makin keras dan aku berlari ke arah mereka. Mengambil dan segera mendekap kedua kucing yang warnanya sama ini, kuning. Seperti anak ketemu ibu yang hilang, begitulah sikap keduanya. Menjilati tanganku dan dadanya naik turun oleh bunyi khas kucing yang lagi bermanja. Aku elus dan Kerei bersama Belang mengeluarkan suara meongan lirih, seakan-akan menghiba, kenapa mereka ditelantarkan. Nampaknya mereka juga kelaparan. Jangan-jangan dua kucing ini sejak pagi tadi hanya di sini, tak berusaha ke kedai atau rumah orang yang sangat dekat dengan mereka.

Aku dekap Kerei dan Belanag dengan tangan kiri dan tangan kanan segera menstater mioku. Pelan-pelan aku tempuh kembali jalan pulang. Kerei dan Belang hening dalam dekapan, tak meronta lagi seperti tadi. Barangkali dekapan ku meyakinkan keduanya bahawa mereka akan segera sampai ke rumah lagi, ke kandang yang berbulan-bulan ini jadi huniannya.

Sampai di rumah, Kerei dan Belang melompat. Mendengar suara meongan kucing, anak ku Rinai segera ke luar dan segera pula memeluk Kerei dan Belang. Rinai sebelumnya sudah aku kabari tentang apa yang terjadi sama dua ekor kucing itu.

“Kasi makan Nai,” kataku.

Begitu Rinai membawakan sepiring nasi yang sudah dicampur ikan rebus, Kerei dan Belang segera menyerbunya dan benar-benar sangat kelaparan. Erangannya menandakan amarah, begitu ada kucing-kucing lain, saudara-saudaranya mendekat. Usai makan Kerei dan Belang masuk kandang dan lelap, seolah-olah mereka amat kelelahan. Dalam tidurnya yang lelap, Kerei dan Belang jadi tontonan tiga gadis ku, Rinai, Serai dan Titah, seolah-olah melihat adik kesayangan yang terlelap.

Berawal Dari Si Bungsu

Saat ini ada 13 ekor kucing di rumah kami, kucing-kucing yang berasal dari satu indukan. Kisahnya dimulai sekitar 5 tahun lalu. Tiba-tiba anak bungsuku yang masih berumur 5 tahun membawa seekor anak kucing pulang. Anak kucing ini kudisan dan terluka. Bulunya dipenuhi lumpur. Dia tak henti mengeong. Awalnya aku mau marah. Tapi melihat si bungsu yang mau nangis memegang anak kucing ini, aku tak jadi marah. Aku ambil kucing itu, aku mandikan, mengeringkan badannya dan segera memberi susu.

Kucing itu pun diberi nama belang, karena warna bulunya yang belang, kuning, putih dan abu-abu. Anak kucing ini berjenis kelamin betina. Dalam sekejap Belang tumbuh jadi kucing yang cantik, bulunya halus karena selalu dimandikan, manja dan dimana ada anak-anak, di sana ada dia. Tiga anak ku yang masih tinggal bersama ku segera jatuh cinta pada kucing ini. Jadilah dia kucing rumahan yang manja.

Saatnya dewasa Belang melahirkan tiga anak, satu berjenis kelamin betina dan dua jantan. Diberi nama Yogie, Sweety dan  Abu. Lalu Yogie si kucing betina dewasa pula dan lahirlah caby, boncel, aray dan jacky. Caby betina dan begitulah seterusnya, melahirkan lagi. Kerei dan Belang masih anaknya Yogie atau adiknya boncel, aray, caby dan jacky. Karena jumlahnya terus bertambah maka aku bikinkan kandang khusus untuk mereka. Makanannya ikan laut yang direbus dan dicampur nasi. Karena ini kucing kampung, memang tak terlalu repot soal makan. Sekali seminggu Rinai memandikan mereka. Jadilah kucing kampung tapi bulunya halus, mengkilat dan bersih.

Kalau aku mau pergi kerja, mereka berlarian mengejar, seolah-olah mengantarkan. Jika pulang kerja begitu juga. Kucing-kucing ini membuat anak-anak betah di rumah dan anak-anak menganggap mereka seperti saudara, kalau ada yang terluka segera diobati, kalau ada yang sakit mereka sedih. Bahkan Rinai pernah menangis tersedu-sedu suatu subuh, ketika menemukan satu anak Yogie mati tidak wajar, terluka dan penuh darah.*** (Luzi Diamanda)

 

 

 

 

 










Komentar Via Website : 141
Obat Radang Gendang Telinga Tradisional
25 November 2015 - 13:46:40 WIB
nice Info gan http://goo.gl/gJhoUV
Obat Luka Bakar Knalpot Tradisional
26 November 2015 - 14:34:49 WIB
Selamat Sore http://goo.gl/nCQmVE
Cara Menyembuhkan Mencret
26 November 2015 - 14:43:36 WIB
wokeh wokeh Infonya http://goo.gl/y0Jrxn
Obat Adenomyosis Tradisional
26 November 2015 - 14:51:08 WIB
Izin nyimak dan comment di website ini yah admin.. http://goo.gl/EmgCPu
Obat Penyempitan Saluran Ginjal
26 November 2015 - 15:00:16 WIB
Top Markotop Nih Infonya, Thanks.. http://goo.gl/MBIL7R
Obat Tradisional Kanker Indung Telur
01 Desember 2015 - 13:31:51 WIB
wokeh Infonya nih gan http://goo.gl/mJVGwW
Cara Menghilangkan Gondok Beracun
01 Desember 2015 - 13:40:11 WIB
TOP informasinya, salut!!...
http://goo.gl/W7HIrR
Obat Kanker Lambung Tradisional
01 Desember 2015 - 13:53:43 WIB
Nice Infonya http://goo.gl/8spDpW
Obat Kista Indung Telur Tradisional
01 Desember 2015 - 14:03:53 WIB
wokeh Informasinya http://goo.gl/bRiLRZ
Cara Cepat Menyembuhkan Eksim Kering Dan Basah
01 Desember 2015 - 14:12:29 WIB
wokeh Infonya Nih http://goo.gl/3HYFTl
AwalKembali 123... 15 Lanjut Akhir


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)