Kisah

Cimingku, Kucingku Pahlawanku

Nita Indrawati Arifin | Minggu, 30 November 2014 - 21:40:26 WIB | dibaca: 11958 pembaca

Cimingku adalah anak keturunan kedua dari Mami Miaww, kucing yang awalnya hanya sering mampir ke rumah lalu menjadi penghuni tetap hingga sekarang. Cimingku awalnya bernama Ciming (tanpa ‘ku’). Ia dilahirkan bersamaan dengan dua saudaranya yang lain. Masing-masing saya beri nama Ciming, Cimung dan Cemong. Entah mengapa, garis belang tepat di tengah-tengah kepala Cimingku seakan mengingatkan saya pada Kaisar Dinasti Ming yang perkasa (walaupun saya sendiri tidak tahu apakah pada zaman dinasti Ming ada kaisar..hehe). Namun, ternyata pemberian nama tersebut menjadi doa dan pembuktian kehebatan perjuangan Cimingku dalam melalui fase kritisnya antara hidup dan mati saat dia divonis distermper beberapa waktu lalu.

Awal cerita bermula saat saya masih sangat awam mengenai berbagai macam penyakit kucing khususnya yang sangat berbahaya. Pengetahuan saya tentang steril dan vaksin juga masih sangat minim. Saat itu, sebelum Cimingku sakit parah ada seekor anak kucing yang juga sakit, namun beberapa hari kemudian anak kucing itu sudah terlihat sehat kembali. Oleh karena itu, saat saya menemukan Cimingku meringkuk di halaman belakang tidak mau makan, saya pikir dia hanya sakit ringan dan akan sembuh dengan sendirinya seperti anak kucing sebelumnya.

Di hari ke-2 Cimingku sakit, tiba-tiba saya menemukan dia meringkuk di dalam rumah tepatnya di dalam keranjang baju yang saya letakkan di lantai. Astagfirullah, saya langsung kaget karena yang saya tahu karakter Cimingku adalah kucing yang cukup penakut. Dia bukan tipe kucing yang senang bermanja-manja dengan siapapun bahkan dengan saya dan cenderung menjauh saat didekati. Kala itu saya berpikir, seandainya ia sampai nekat masuk ke rumah untuk minta perhatian, berarti sakitnya sudah sangat parah. Dengan kondisi panik dan khawatir saya menelpon dokter hewan langganan saya (sebut saja drh. Ade). Saya sebutkan ciri-ciri yang tampak, tetapi karena hari sudah agak sore drh. Ade tersebut baru bisa datang keesokan harinya.

Saat melihat kondisi Cimingku, drh. Ade langsung menyuntikkan beberapa obat ke tubuh Cimingku. Beliau lalu memasang muka serius dan bicara cukup hati-hati seakan semua kata-katanya sangat penting untuk saya pahami. Beliau bilang bahwa Cimingku terkena distemper yang menyerang syaraf-syarafnya. Awalnya saya masih tidak paham. Barulah saat saya menanyakan tentang obat untuk jamur yang ada di kulit Cimingku, drh. Ade berkata dengan nada yang cukup tajam, “Obat jamur itu tidak akan berguna, seandainya Ibu Rika tidak fokus merawat Ciming selama beberapa hari ke depan. Kucing yang terkena penyakit ini kemungkinan yang bertahan dari 10 kucing hanya 1. Kita lihat apakah Ciming bisa melewati hari sampai Kamis depan. Jika ia bertahan segera hubungi saya. Saya akan langsung datang ke sini.” Mendengar ucapan drh. Ade tersebut saya cukup shock. Saya baru memahami betapa bahayanya penyakit ini.

Dengan kegalauan hati dan air mata yang mulai menetes saya membawa masuk Ciming yang masih meringkuk di dalam keranjang ke dalam kamar. Saat itu saya bertekad akan merawat dia sampai sembuh. Dia harus jadi yang 1 dari 10 kucing tersebut! Ciming tidak boleh menyerah karena saya juga tidak akan menyerah. Perjuangan panjangpun dimulai.

Segera saya menyiapkan makanan khusus yang saya dapat dari drh Ade tadi. Saya pasang timer tiap satu sampai dua jam sekali untuk rutin kasih makan melalui pipet suntikan. Dengan kondisi yang semakin melemah, alhamdulillah napsu makan Ciming masih cukup baik. Sedikit-sedikit saya masukan makanan basah tersebut ke dalam mulutnya dan ia merespons dengan menjilat-jilat lidah seperti menikmati. Saya juga memberi obat secara teratur di jam-jam yang telah ditentukan.

Saat malam hari saya bahkan nyaris tidak tidur karena hati tidak tenang selalu terbangun untuk mengecek kondisi Ciming. Alhamdulillah, saya dibantu suami tercinta yang setia mendampingi di situasi tersebut, baik waktu dan tenaga juga dukungan moril karena kondisi fisik dan psikis saya yang juga ikut memburuk. Beberapa teman dekat tak henti-henti memberikan doa dan dukungan untuk saya dan Ciming agar kuat melewati masa itu. Sungguh, hari-hari yang sangat melelahkan.

Keteguhan hati saya hampir runtuh untuk tetap mempertahankan Cimingku agar bisa sembuh dan sehat seperti dulu pada saat ia ada di titik kritis. Melihat kondisinya yang semakin lemah dan tidak berdaya membuat saya menjadi manusia yang egois dan tidak memahami penderitaannya.

Di hari ke-3 mungkin karena kondisi dalam tubuhnya yang semakin sakit, Cimingku tidak mau tidur di dalam keranjang lagi. Ia lebih memilih tidur di bawah tempat tidur saya dengan alas bantal kecil dan handuk bekas. Yang lebih menyayat hati adalah saat ia bersikeras pipis dan pup di kamar mandi saya. Dengan langkah gontai dan sempoyongan ia berjalan ke kamar mandi yang jaraknya cukup jauh dari tempat tidur. Betapa ia tidak mau membuat saya sebagai pemiliknya repot merawat dia yang sedang sakit. Selalu setelah ia selesai dari kamar mandi dan kembali ke tempatnya berbaring, sambil menangis saya berpesan, “Ciming ga usah pipis atau pup di kamar mandi. Disini aja ngga apa-apa, nanti aku yang bersihkan. Kan Ciming lagi sakit.” Entah dia yang tidak mengerti bahasa saya atau memang dia tidak mau merepotkan, aktivitas ke kamar mandi itu tetap dilakukan. Hal itulah yang membuat saya tidak pernah tega meninggalkannya sendirian. Untung saya bekerja di rumah jadi saya masih tetap bisa mengawasinya. Seandainya saya harus pergi, saya selalu meminta orang untuk membantu menjaga Ciming dan secepatnya kembali ke rumah.

Ia baru berhenti bolak-balik ke kamar mandi saat tubuhnya sudah tidak bisa diangkat lagi. Akhirnya dia hanya bisa berbaring miring dengan tatapan mata kosong yang hampir tidak pernah terpejam. Beberapa kali saya menjerit dan menangis histeris saat penyakitnya menyerang. Ia seperti kejang hebat dengan menahan sakit yang luar biasa. Terlihat darah segar mengalir dari hidung dan lubang belakangnya. Urat-urat syaraf di mata juga berubah merah. Seperti kondisi sakaratul maut. Saat itu saya hanya bisa menangis, tidak tahu harus berbuat apa. Untuk menyentuhnya juga saya tidak berani. Di tengah kesedihan dan kepedihan hati, saya berbisik lirih di dekatnya, “Kalau Ciming sudah tidak kuat, Ciming boleh pergi. Ngga apa-apa aku udah rela dan ikhlas melepas Ciming. Asal Ciming tidak merasa kesakitan lagi.” Saya betul-betul tidak kuat melihat penderitaannya. Ia sempat mengalami beberapa kali kejang seperti itu.

Di tengah keputusasaan karena tidak tahu harus berbuat apa untuk mengurangi sakitnya, saya hanya pasrah kepada Allah SWT. Pernah saya duduk membaca yasin di dekat Ciming untuk mengurangi kegundahan hati saya, ajaibnya ia seperti menikmati bacaan yasin saya itu. Ciming berbaring menatap saya, tidak ada erangan kesakitan. Telinganya juga bergerak-gerak pelan.

Pada suatu saat setelah saya menyaksikan kejangnya yang menyiksa, dengan mencoba membesarkan hati sendiri, saya berkata ke Ciming sambil memegang pipet suntikan makanannya, “Ciming ini ada makanan kesukaan Ciming. Kalau Ciming masih mau bertahan disini Ciming boleh makan makanannya. Tapi kalau Ciming sudah tidak kuat lagi, ngga apa-apa makanannya ngga usah dimakan.” Dengan tangan gemetar saya menyodorkan pipet suntikan tersebut. Dada saya sesak menahan nafas, seakan belum siap menghadapi penolakan makanan yang saya sodorkan. Saat ujung pipet meyentuh mulutnya, pelan-pelan saya dorong makanannya masuk. Sangat mengejutkan saat lidahnya merespons menjilat-jilat makanan tersebut. “Alhamdulillah Ya Allah, Engkau masih berkenan memberi Ciming kesempatan untuk sembuh. Aku berjanji akan merawat Ciming dengan sebaik-baiknya.”

Untuk selanjutnya saya merawat Ciming dengan lebih intensif lagi. Kegiatan rutin saya di hari-hari tersebut adalah duduk atau berbaring di lantai sambil menatap Ciming  dan mengajaknya bercakap-cakap. Saya memberi semua kata-kata positif yang membangkitkan semangatnya. Saya juga berjanji akan memberi dia banyak makanan kesukaannya. Ucapan syukur yang tak terhingga saat tiba hari yang dijanjikan drh Ade untuk datang. Dengan bersemangat saya menelpon beliau dan mengabarkan kalau Ciming tetap bertahan. Segera drh Ade datang ke tempat saya untuk mengecek langsung kondisi Ciming. Hati gembira tak terkira saat Ciming dinyatakan telah melewati masa kritisnya. Sekarang tinggal pemulihan dan penyembuhannya saja.

Bahkan sempat asistant drh Ade bercanda dengan mengatakan, “Ibarat orang yang baru bangkit di kehidupan keduanya, harusnya diadakan syukuran wayang kulit semalam suntuk.” Leluconnya itu menginspirasi saya untuk mengadakan syukuran dan  mengganti nama Ciming menjadi “Cimingku”. Saya undang  teman-teman dekat makan siang dan mengajak mereka memanjatkan doa syukur bersama atas kesembuhan Cimingku. Tentu saja Cimingku juga ikut hadir walau masih meringkuk lemah di keranjangnya.

Setelah melewati hampir satu minggu masa pemulihan, Ciming mulai bisa aktif kembali. Pelan-pelan dia bangkit berdiri dan mencoba berjalan. Semua terlihat normal sampai saya menyadari bahwa syaraf disekitar leher kepalanya menyisakan penyakit itu. Kepalanya terlihat selalu bergetar (saya menyebutknya ‘godek’). Aroma kurang sedap juga muncul dari mulutnya. Terlebih kalau ia sedang flu dan bersin terus menerus. Syaraf kaki belakangnya juga kena sehingga saat ia berlari, kedua kaki belakangnya menyatu seperti ketika perempuan memakai rok panjang. Kondisi itu  tidak terlalu kelihatan apabila ia berjalan. Namun, bagaimanapun kondisi Ciming sekarang saya tetap bahagia mengetahui ia bisa sembuh dan sehat kembali.

Saat inipun ia semakin lincah dan pintar. Dia sudah tidak mau lagi tidur di bawah tempat tidur dan lebih memilih tidur di atas kasur dekat kaki saya. Walaupun masih dengan karakternya yang dulu “malu-malu kucing” susah untuk di dekati dan dimanja-manja. Sifat keras kepalanya juga muncul saat ia merengek meminta makanan kesukaannya yang agak-agak aneh (mungkin menagih janji saya dulu). Ya, karena makanan kesukaannya itu adalah cemilan “pang-pang”, makanan tradisional gurih manis yang berbentuk seperti bantal-bantal kecil dengan gores-gores garis panjang. Saya tidak ingat moment pertama kali ia mencicipi makanan itu hingga akhirnya ketagihan sampai sekarang. Saya selalu menyediakan cemilan itu dalam toples kecil, walaupun jumlah yang saya kasih tiap hari sangat dibatasi karena saya tidak tahu  makanan itu baik untuk dia atau tidak.

Demikianlah akhir kisah Cimingku dalam perjuangan mempertahankan hidup demi orang-orang yang menyayanginya. Semoga kisah ini dapat menjadi inspirasi bagi kita semua untuk menghargai dan mensyukuri nikmat hidup yang telah Allah anugerahkan kepada kita. Jika tulisan ini menang dan bisa dimuat dalam buku cetakan nanti, itu semata-mata hanyalah bonus dari Allah atas perjuangan dan kesembuhan Cimingku, yang juga telah menggerakakan hati dan tangan saya mengetik tulisan ini di detik-detik terakhir batas waktu pengiriman.

 

Tulisan ini saya persembahkan untuk Cimingku, Kucingku Pahlawanku.

Kisahini pernahdiikutkan lomba ACFA bulan Februari 2014 lalu. I love you so much!

 

Rika Wattimena (Jakarta)

 










Komentar Via Website : 273
cara mengurangi berat badan dengan cepat
07 Januari 2015 - 10:55:15 WIB
selamat dan semoga sukses semuanya http://goo.gl/8lrbcy
obat pelangsing yang aman untuk penderita maag
09 Februari 2015 - 11:23:55 WIB
senin barokalloh http://goo.gl/vBC36r
Sablon Baju Print
04 Mei 2015 - 10:51:15 WIB
Obat Keputihan Alami
17 Mei 2015 - 16:44:11 WIB


Hatur nuhun atos update terus artikel dina blog iyeu, meni bermanfaat kangge pengunjungna. Kalebet abi http://v.gd/Qpmu7q
Punten halamanna bade disimpen ku abi, supados abi tiasa ngunjungi deui kana blog iyeu. http://gg.gg/putihan
Abi nitip link : http://cli.gs/keputihan | http://cut.by/2DlUs
Obat Keputihan Gatal
17 Mei 2015 - 16:44:30 WIB


Hatur nuhun atos update terus artikel dina blog iyeu, meni bermanfaat kangge pengunjungna. Kalebet abi http://v.gd/Qpmu7q
Punten halamanna bade disimpen ku abi, supados abi tiasa ngunjungi deui kana blog iyeu. http://gg.gg/putihan
Abi nitip link : http://cli.gs/keputihan | http://cut.by/2DlUs
Hani Angraeni
27 Mei 2015 - 13:33:20 WIB
Saya tunggu info barunya gan. makasih ya udah berbagi informasi yang bermanfaat https://goo.gl/G3tgx7
Cara Mengobati Keputihan
09 Juni 2015 - 06:46:05 WIB
Infonya selalu bermanfaat untuk kami http://goo.gl/81pbx9. Terima kasih telah update terus artikel di website anda. Saya akan terus kunjungi website anda.
Salam kenal dari kami http://goo.gl/Vv5Vrm para pembaca setia website anda dan kami http://is.gd/CojiBC akan simpan website anda agar kami mudah untuk berkunjung kembali.
Visit my Link : http://gg.gg/obat_keputi | http://v.gd/O3YSi
Obat Keputihan Pada Wanita
09 Juni 2015 - 06:46:28 WIB
Infonya selalu bermanfaat untuk kami http://goo.gl/81pbx9. Terima kasih telah update terus artikel di website anda. Saya akan terus kunjungi website anda.
Salam kenal dari kami http://goo.gl/Vv5Vrm para pembaca setia website anda dan kami http://is.gd/CojiBC akan simpan website anda agar kami mudah untuk berkunjung kembali.
Visit my Link : http://gg.gg/obat_keputi | http://v.gd/O3YSi
Cara Menghilangkan Keputihan Secara Alami
30 Juni 2015 - 07:38:07 WIB
Infonya selalu bermanfaat untuk kami http://goo.gl/81pbx9. Terima kasih telah update terus artikel di website anda. Saya akan terus kunjungi website anda.
Salam kenal dari kami http://goo.gl/Vv5Vrm para pembaca setia website anda dan kami http://is.gd/CojiBC akan simpan website anda agar kami mudah untuk berkunjung kembali.
Visit my Link : http://gg.gg/obat_keputi | http://v.gd/O3YSi
Cara Menghilangkan Keputihan Yang Berlebihan
30 Juni 2015 - 07:38:28 WIB
Infonya selalu bermanfaat untuk kami http://goo.gl/81pbx9. Terima kasih telah update terus artikel di website anda. Saya akan terus kunjungi website anda.
Salam kenal dari kami http://goo.gl/Vv5Vrm para pembaca setia website anda dan kami http://is.gd/CojiBC akan simpan website anda agar kami mudah untuk berkunjung kembali.
Visit my Link : http://gg.gg/obat_keputi | http://v.gd/O3YSi
AwalKembali 123... 28 Lanjut Akhir


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)